Header Ads

Awal Mula Dr. Drh. Ligaya Ita Tumbelaka, SpMP, MSc. Menjadi Pencatat Silsilah Harimau Sumatera


Pencatat Silsilah Harimau Sumatera - Putri pasangan Lendy Roland Tumbelaka dan Sophia Maria Theresia Pangalila Tumbelaka yang mengambil Spesialisasi Kesehatan dan Penangkaran Satwa Primata Clinical Medical Research Center, Bowman Grey School of Medicine, Wake Forest University, North Carolina, USA ini ternyata juga memiliki banyak kesibukan lain,selain tentunya mengajar di IPB.

Kenapa Anda memilih menjadi dokter hewan?
Cita-cita awal saya sih ingin jadi dokter manusia. Menjelang akhir SMP, saya juga ingin menjadi seorang guru. Papa saya bilang, "Boleh kuliah kemana pun asal negeri." Karena Papa saya seorang tentara, saya sekolah mengikuti tempat dinas Papa. Saat SMA, saya bersekolah di Sekolah Indonesia di Bangkok sampai selesai.

Tapi ketika mau kuliah, takut juga saya ikut Ujian Masuk Perguruan Tinggi (UMPT). Saya pikir, ketika itu, agar lulus ujian itu bukan hanya dibutuhkan kecerdasan tetapi juga faktor keberuntungan. Walau saya kerap jadi juara satu di sekolah. Kalau di Sekolah Indonesia Bangkok, saya ranking satu dari tiga orang. Ha ha ha. 

Jadi, Anda kemudian melanjutkan kuliah di IPB?
Sebetulnya saya khawatir juga saat akan mengikuti UMPT. Kalau saya enggak lulus, lantas enggak kuliah, bagimana? Kebetulan, saya mendapat informasi, ada kakak kelas yang kuliah di IPB tanpa tes. Ya sudah, saya ikuti langkahnya. Padahal ketika itu saya belum tahu banyak mengenai IPB. Yang saya tahu itu kuliah pertanian. Kebetulan di Thailand banyak sekali anggrek dan saya juga suka bunga dan tanaman.

Saya pun mendaftar dan diterima. Tahun 1979 saya kembali sendiri ke Indonesia untuk mulai kuliah di IPB.

Saya memilih tiga jurusan, pertanian, kehutanan dan kedokteran hewan. Ternyata saya diterima di Kedokteran Hewan. Dulu belum banyak yang ingin menjadi dokter hewan.Saya juga percaya bahwa ini adalah yang terbaik yang diberikan Tuhan, jadi saya harus serius dan total dalam menjalaninya.

Anda juga dikenal sebagai ahli primata. Bagaimana Ceritanya?
Saya lulus kuliah tahun 1984 dengan nilai sangat baik, IP saya di atas 3. Setelah itu saya ditawari menjadi dosen IPB. Karena saya juga pernah bercita-cita menjadi guru, tawaran itu pun langsung saya terima.

Saya mengajar di Departemen Reproduksi Hewan. Tahun 1987 saya berniat meneruskan kuliah, karena untuk jadi dosenkan harus S2 dan S3. Kebetulan, ketika mau melanjutkan kuliah, IPB sedang butuh orang untuk dilatih menangani primata di Pusat Studi Primata yang sedang mau dibentuk. Saya pun meneruskan studi S2 ke Amerika, mempelajari satwa primata.

Tapi kemudian Anda berprofesi sebagai seorang studbook keeper?
Ya, ketika kembali ke Indonesia tahun 1992, senior saya menawarkan saya untuk pindah program. Jadi, ketika pulang ke Indonesia, bukannya mengurusi Pusat Primata, saya malah diminta mengurusi harimau. Karena ketika itu ada kolaborasi IPB dengan Taman Safari Indonesia (TSI). TSI mencari dokter hewan dari IPB yang memiliki kapasitas untuk melakukan sebuah pekerjaan baru.

Ketika itu saya ingat pernah ditanya seorang supervisor di Amerika. “Ligaya, if you have a chance to work with another species of animals beside primate what kind of animal?” Ketika itu jawaban saya adalah harimau. “Why?” lanjut dia, saya bilang bahwa harimau itu hewan yang kharismatik.

Ternyata itu menjadi kenyataan. Itu yang saya kadang bikin saya heran. Saya enggak pernah memilih untuk menjadi apa. Tapi ternyata garis yang diberikan Tuhan seperti ini. Semuanya akan berjalan baik, asal kita juga menjalaninya dengan baik. 

Apa sih tugas seorang studbook keeper? Apa yang Anda lakukan?
Saya menjadi pencatat silsilah atau studbook keeper. Mengurusi pencatatan ini enggak gampang loh. Tugasnya mungkin terlihat sepele, tapi tidak mudah mencatat dan mencari data. Mulai dari mempelajari hewannya, mempelajari behavior harimau. Sudah itu, baru saya mulai tanya sama semua kebun binatang yang punya harimau Sumatera. Saya ini kan bukan orang dari kebun binatang, jadi saya harus membuat jaringan. Terlebih belum pernah ada yang mulai membuat pencatatan. Sayalah yang pertama. Kebetulan saya memiliki semua basic yang diperlukan untuk menjadi studbook keeper.

Apa hambatan yang Anda alami membuat catatan ini?
Saya harus datang ke lokasi dan memeriksa setiap data harimau Sumatera. Saya harus belajar untuk percaya pada orang dan dapat melakukan verifikasi dan validasi. Buat saya, profesi ini juga menjadi tantangan tersendiri. Prinsip saya, saya harus mendapatkan data riil harimau Sumatera berdasar laporan pandangan mata dan verifikasi.

Seperti yang sudah saya sebut, saya memulai dengan berkoordinasi dengan seluruh lembaga konservasi dan kebun binatang di seluruh Indonesia. Metode pencatatannya pun sederhana. Saya memulai dari data harimau yang ada saat itu kemudian menariknya ke belakang secara historis. Saya harus tahu dari mana harimau itu datang, mana orang tuanya, dan mengapa ia sampai ada di lembaga konservasi tersebut.

Ternyata, tidak semua harimau di kebun binatang bisa didapatkan datanya. Pencatatan yang dilakukan sejumlah kebun binatang ternyata tak sempurna. Tidak jarang, ada harimau yang tidak memiliki latar belakang apa pun. Ada yang masuk kebun binatang dengan legal. Kalau legal, ada berita acaranya. Nah,  yang bermasalah itu yang tidak ada datanya.

Apa sih pentingnya studbook ini?
Fungsi studbook ternyata tidak sekadar mencatat silsilah. Studbook merupakan acuan dasar untuk melakukan pelestarian dengan cara yang benar. Dari studbook, setiap pihak dipastikan bisa mengetahui jumlah dan generasi harimau. Kita juga bisa mengetahui mana keturunan harimau Sumatera yang produktif maupun sebaliknya.

Harimau Sumatera ini kan satwa liar yang kian langka. Nah, misalnya ketika dikawinkan atau ditangkarkan, juga sebaiknya dijaga kemurniannya. Artinya harimau Sumatera ya harus dikawinkan dengan harimau Sumatera. Di penangkaran, lewat catatan ini akan terlihat siapa pasangan yang cocok untuk dikawinkan. Kami ingin membangun populasi di luar habitatnya tapi dengan mutu genetik yang bagus. Jangan sampai kekerabatan terlalu tinggi, sehingga dikhawatirkan hewannya lebih kecil, rentan penyakit atau cacat. Itu yang ingin kami hindari. Nah, alat bantunya dengan data studbook. Dalam perkembangannya, 1,5 tahun kemudian, saya juga jadi dokter hewan di TSI. 

Apa kendala yang Anda hadapi dalam bidang yang Anda tekini ini?
Oh iya, sekarang status saya sudah enggak di TSI lagi, tugas saya di IPB juga sudah semakin banyak. Saat ini saya menjabat Kepala Bidang Pelatihan dan Penelitian untuk Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia.

Nah, dalam bidang saya saat ini hambatan terbesarnya adalah mencari sumber daya manusia. Karena, enggak semua orang yang bekerja di kebun binatang paham tentang hewan. Mereka bekerja hanya karena they need the job! Selain itu, saya punya kelas khusus di FKH yaitu menejemen satwa liar. Negara kita butuh lebih banyak lagi dokter hewan, terlebih yang fokus pada satwa liar. Indonesia adalah negara kedua megabiodiversity di dunia, yang pertama Brazil. Kalau engga ada orang yang peduli dengan satwa kita, apa enggak akan punah semua?

Apa harapan kedepan mengenai satwa liar di Indonesia?
Saya agak senang melihat komunitas satwa liar seperti burung hantu, reptil, musang dan lain sebagainya. Tapi patut diarahkan, bahwa satwa liar bukanlah satwa peliharaan atau pet. If you love them, harusnya senang melihat mereka di alam.

Saya juga senang lihat anak-anak kedokteran hewan juga banyak yang mau jadi dokter hewan khusus satwa liar. Semoga pemerintah, penentu kebijakan seperti kementrian kehutanan dan lain-lain untuk semakin menyadari, memahami akan pentingnya satwa liar untuk kita. Saya orang yang percaya dengan alam. Alam itu sudah ada yang menata, yaitu Tuhan. Tanamlah semua sesuai pada kodratnya. Kalau dia harusnya di situ, itu tempatnya. Mengapa kita mengganggu?

Apa yang Anda lakukan di waktu luang?
Pekerjaan saya sehari-hari sudah banyak, ada suami dan keluarga juga yang harus diurus. Saya mau everybody happy, make me happy. Kalau ada waktu luang saya lebih memilih ada di rumah. Saya senang masak, membuat pekerjaan tangan dan nonton. Saat ini sedang menjajaki untuk membuat buku. Saya mau kasih semua keilmuan dan pengalaman yang saya tahu dalam sebuah buku. - Edwin F. Yusman (Tabloid Nova)
Diberdayakan oleh Blogger.