Header Ads

Aktivis Perubahan Iklim Dunia Kecewa Terhadap Hasil Konferensi Perubahan Iklim PBB di Madrid

loading...
Aliansi CAN yang terdiri dari jaringan lebih dari 1.300 LSM dari sekitar 120 negara itu mengecam Conference of Parties (COP) 25 karena negara-negara besar penghasil polusi menempatkan kepentingan politik dan bahan bakar fosil di atas kepentingan manusia dan planet Bumi.

Rasa kecewa disampaikan sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang tergabung dalam Climate Action Network (CAN) atas konferensi iklim PBB yang berakhir Minggu (15/12) di Madrid.

Aktivis Perubahan Iklim - Aliansi CAN yang terdiri dari jaringan lebih dari 1.300 LSM dari sekitar 120 negara itu mengecam Conference of Parties (COP) 25 karena negara-negara besar penghasil polusi menempatkan kepentingan politik dan bahan bakar fosil di atas kepentingan manusia dan planet Bumi.

CAN menuduh negara-negara seperti Amerika Serikat, Australia, dan Brasil bersikap apatis terhadap penderitaan jutaan orang dan menolak dengan disengaja terhadap kebenaran sains tentang adanya perubahan iklim.

Julie-Anne Richards, Direktur Eksekutif Climate Action Network Australia, mengatakan bahwa saat ini adalah masa darurat iklim di negaranya. Tercatat kebakaran hutan berkobar selama tiga bulan, dengan enam orang tewas, 720 rumah hancur, serta taman nasional dan margasatwa yang terbakar.

“Namun Pemerintah Australia masih berusaha untuk melemahkan ambisi iklimnya, dan menyeret ambisi seluruh Perjanjian Paris ke tingkatnya. Ini tidak dapat diterima oleh orang-orang Australia, ribuan di antaranya turun ke jalan minggu ini menuntut pemerintah untuk melakukan perubahan iklim dengan serius. Pemerintah belum mendengar yang terakhir dari kami, kami akan terus menuntut keadilan iklim,” katanya, dikutip dari siaran pers, Senin (26/12/2019).

COP 25 adalah agenda tahunan yang digelar United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang tahun ini tuan rumahnya adalah Chili, namun penyelenggaraannya di Madrid, Spanyol.

CAN menyebut bahwa ada kesenjangan makin lebar antara apa yang orang tuntut untuk masa depan yang aman dari dampak perubahan iklim dan apa yang bersedia dilakukan oleh para pemimpin negara. Hal itu seiring dengan meningkatnya emisi, produksi bahan bakar fosil meningkat, dan dampaknya juga ikut meningkat.

Menueurt mereka, emitor besar gagal menunjukkan sinyal yang jelas tentang peningkatan ambisi pada tahun 2020 dan negara-negara kaya mengingkari janji untuk menyediakan dana untuk menaggulangi kerugian dan kerusakan.

Selain itu, COP 25 berakhir tanpa kesepakatan tentang aturan pasar karbon. “Kami menegaskan kembali bahwa setiap aturan yang diputuskan tahun depan harus mengamankan integritas lingkungan dan melindungi hak asasi manusia.”

Direktur Pelaksana International Program the Natural Resources Defense Council Jake Schmidt mengatakan bawha para pemimpin dunia ragu-ragu alih-alih mengambil tindakan yang lebih kuat dan penting segera untuk mengurangi ancaman iklim global.

“Mereka mengabaikan laporan ilmiah yang mengerikan, memperburuk bukti kehancuran iklim, dan tuntutan dari jutaan anak muda untuk melindungi masa depan mereka. Di Madrid, negara-negara pencemar utama yang bertanggung jawab atas 80 persen emisi perusak iklim dunia, berdiri bisu, sementara negara-negara kecil mengumumkan mereka akan bekerja untuk menurunkan emisi berbahaya di tahun mendatang,” katanya.

“Kami tidak akan membiarkan mereka meninggalkan kami ke dunia dengan lautan yang terus naik, spesies yang hilang, perselisihan sipil dan kebakaran hutan yang merajalela, badai dan banjir.”

Penulis: 
Diberdayakan oleh Blogger.