Header Ads

Lebih Dari 300 Aktivis Perubahan Iklim, Melakukan Aksi Mogok Makan di 26 Negara

loading...
Kelompok protes Extinction Rebellion menggelar mogok makan untuk meningkatkan tekanan pada pemerintah di penjuru dunia agar bertindak dalam darurat iklim ekologis.

Aktivis Lingkungan - Lebih dari 300 aktivis di 26 negara, termasuk Inggris, Selandia Baru, Nigeria, Pakistan, Polandia, dan Spanyol mengikuti aksi mogok makan itu selama minimal sepekan sejak Senin (18/11).

Di Inggris, aksi itu dilakukan menjelang pemilu yang akan digelar pada 12 Desember. Setelah dua pekan protes di London pada Oktober, para aktivis berencana menggelar aksi menjelang pemilu agar menjadikan darurat iklim dalam agenda pemilu.

“Mogok makan adalah salah satu hal yang dapat kami gunakan yang tak dapat diambil,” papar Angus Rose, pengembang software berumur 50 tahun dari Afrika Selatan.

Rose telah cuti kerja untuk mengikuti aksi mogok makan tersebut.

“Jika seseorang ditahan, orang itu masih bisa melanjutkan mogok makan,” kata dia.

Unjuk rasa pada Oktober mengakibatkan lebih dari 2.500 orang ditahan di penjuru dunia, termasuk 1.700 orang di Inggris. Para aktivis menyatakan siap ditahan karena dianggap melanggar aturan oleh kepolisian.

Pengunjuk rasa memblokir lalu lintas di ibu kota dengan melekatkan diri mereka ke jalanan dekat kompleks pemerintahan, lembaga keuangan, dan kantor pusat raksasa media sosial, serta mengakibatkan penundaan penerbangan di Bandara Kota London.

Kondisi itu membuat kepolisian melarang kelompok tersebut. Larangan itu dinyatakan tidak sesuai hukum oleh Pengadilan Tinggi Inggris beberapa pekan kemudian.

Extinction Rebellion menggunakan pembangkangan sipil untuk meningkatkan kesadaran pada pemanasan global akibat ulah manusia di penjuru dunia.

Pekan lalu, demonstran melalui surat ke tujuh partai politik Inggris meminta bertemu dengan para ketua partai untuk membahas tuntutan gerakan itu. Kelompok itu menuntut penetapan target untuk emisi gas rumah kaca mencapai nol pada 2025, dan membentuk majelis rakyat untuk membuat berbagai keputusan tentang perubahan iklim.

Penulis: Ahada Ramadhana
Diberdayakan oleh Blogger.