Header Ads

Hewan Bernama "Tikus-Rusa" Yang Telah Dianggap Punah, Akhirnya Terlihat Kembali di Hutan Vietnam

loading...
Sebuah penemuan kembali menemukan spesies tikus-rusa yang diketahui sudah tak pernah terlihat sejak 30 tahun yang lalu.

Penelitian - Penemuan itu didapat di sebuah kawasan hutan dataran rendah di Nha Trang, Vietnam.

Menurut laporan yang dirilis pada hari Selasa (12/11/2019) dalam Jurnal Nature, sebelumnya, kepunahan tikus-rusa diakibatkan pembukaan lahan dan perburuan liar di habitat tempat hewan ini berada.

Hewan dengan ukuran tubuh yang kecil seperti kelinci ini memiliki bulu berwana keperakan di bagian kepala hingga kaki depan.

Sedangkan pada bagian tubuh lainnya mirip dengan tikus hutan.

Sebelum melakukan penelitian di hutan ini, para peneliti sudah mendapat informasi tentang keberadaan bangkai hewan ini dari warga setempat.

Setelah mendapat informasi itu, para peneliti melakukan wawancara dengan warga setempat yang melihat adanya kawanan hewan yang mirip dengan rusa kecil dengan punggung berwarna abu-abu.

Para peneliti lalu memasang kamera CCTV yang dilengkapi sensor pada tiga titik lokasi yang pada awal 2018.

Berselang setahun, mereka kembali lagi untuk melihat hasil dari rekaman itu.

Hasilnya, pada bulan April 2019, ketiga kamera itu sudah dipenuhi oleh rekaman oleh tikus-rusa itu.

Dari hasil itu, peneliti memutuskan menambah jumlah CCTV di 29 titik berbeda.

Mulai dari April hingga Juli 2019, temuan itu menunjukkan setidaknya dalam kawasan hutan ini terdapat populasi spesies yang kemungkinan cukup besar.

"Kami tidak tahu apa yang diharapkan, jadi saya terkejut dan gembira ketika kami memeriksa jebakan kamera dan melihat foto-foto tikus-rusa dengan sayap perak," kata An Nguyen, seorang ilmuwan dan pemimpin tim ekspedisi di Global Wildlife Conservation (GWC).

Kini, para peneliti menyarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah ada populasi tikus-rusa di hutan Vietnam lainnya.

Selain itu, peneliti juga mengimbau perlunya strategi mengurangi bencana unutk melindungi habitat tikus-rusa itu.

Temuan ini, dilaporkan dalam Ekologi Alam dan Evolusi, telah meningkatkan seruan untuk melakukan tindakan cepat dalam melindungi apa yang tersisa dari populasi hewan ini.

Prioritas utama adalah mengurangi penggunaan jerat saat akan menangkap hewan untuk perdagangan satwa liar.

“Menghentikan menjerat tidak hanya akan melindungi tikus-rusa yang berbulu perak, tetapi juga banyak spesies lain, termasuk beberapa mamalia dan burung yang hanya ditemukan di Greater Annamites dan terancam punah,” kata Andrew Tilker, anggota tim GWC.

Penemuan kembali tikus-rusa telah membangkitkan harapan bahwa spesies lain yang dianggap hilang oleh ilmu pengetahuan dapat kembali ditemukan di alam liar.

“Aspek kunci untuk survei di masa depan untuk spesies yang hilang akan bekerja dengan masyarakat lokal, seperti yang kami lakukan untuk proyek tikus-rusa ini, untuk membantu memandu upaya survei di lapangan,” kata Tilker.

Memasukkan pengetahuan ekologi kapada masyarakat lokal ini sangat penting dan strategi ini dapat terbukti berhasil untuk spesies lain di bagian lain dunia.

Menanggapi temuan itu, Prof. James Watson dari Pusat Keanekaragaman Hayati di Universitas Queensland mengatakan populasi tikus-rusa ini memiliki peluang untuk pulih dari status terancam punah.

"Hewan ini bisa berkembang biak dengan cepat. Jadi kabar baiknya, jika kita bisa mengendalikan habitat dan kegiatan berburu, maka populasinya bisa tumbuh kembali," jelasnya.

Penulis: Mega Khaerani
Diberdayakan oleh Blogger.