Header Ads

Sidang Lingkungan Perserikatan Bangsa - Bangsa Menghasilkan 25 Resolusi Penting

loading...
Salah satu resolusi penting adalah resolusi lingkungan yang berkaitan dengan perang, pendudukan dan konflik. 

PortalHijau - Sidang Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa berhasil menggolkan 25 resolusi penting menuju pembangunan berkelanjutan dan terlaksananya Perjanjian Iklim Paris. Sidang PBB ini dihadiri oleh menteri-menteri lingkungan hidup dari seluruh dunia.

Dalam sesi kedua yang berlangsung Jumat malam, 27 Mei 2016 di Nairobi, Kenya, delegasi yang hadir menyepakati berbagai keputusan lingkungan penting terkait perdagangan satwa liar, pencemaran laut, polusi udara, sampah dan polusi bahan-bahan kimia, serta pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.

Menurut Achim Steiner, Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP), lingkungan selalu menjadi jantung dari kesejahteraan umat manusia. Tahun lalu, negara-negara dunia menghargai lingkungan melalui berbagai kesepakatan, seperti Agenda 2030 menuju Pembangunan yang Berkelanjutan, Perjanjian Paris, Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana serta Agenda Aksi Addis Ababa.

Topik-topik penting
Sejumlah topik mendominasi dari 25 resolusi yang dihasilkan dalam Sidang Lingkungan PBB sesi kedua (UNEA-2) tahun ini. Topik pertama adalah implementasi aksi menuju terwujudnya target pembangunan berkelanjutan dan Perjanjian Paris.

Sidang Lingkungan PBB meminta UNEP untuk memulai kemitraan baru dan memerkuat kemitraan yang sudah ada, termasuk dengan sektor swasta dan masyarakat sipil. Sidang juga meminta UNEP untuk membantu negara-negara berkembang membangun kesiapan mereka mengakses pendanaan dan teknologi guna mengimplementasikan Perjanjian Paris.

Topik kedua adalah perdagangan tumbuhan dan satwa liar yang mendorong banyak spesies ke jurang kepunahan, merampok kekayaan alam dan menguntungkan jaringan kriminal internasional.

Topik ketiga adalah pencemaran dan sampah di lautan. Saat ini diperkirakan terdapat 5,2 triliun plastik mencemari lautan yang berbahaya bagi lingkungan, dan kesehatan keanekaragaman hayati. Guna mengatasi masalah ini negara-negara yang hadir sepakat meminta tanggung jawab produsen untuk lebih memerhatikan siklus dan dampak lingkungan dari produk-produk mereka.

Sidang juga meminta UNEP membantu mengembangkan kebijakan nasional dan regional serta penerapannya guna mengurangi sampah di lautan terutama di negara-negara penyumbang polusi dan sampah lautan terbesar.

Topik keterkaitan antara kesehatan masyarakat dan kondisi lingkungan menjadi topik penting keempat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memerkirakan, faktor lingkungan menyebabkan 12,6 juta kematian setiap tahun. Ada beberapa resolusi yang berhasil diloloskan untuk topik ini, termasuk resolusi tata kelola limbah dan bahan kimia, seperti timbel yang mencabut 654.000 jiwa pada tahun 2010, merusak kecerdasan dan kesehatan anak.

Para delegasi meminta UNEP mendorong sektor swasta memainkan peran yang lebih besar dalam tata kelola limbah dan bahan kimia secara berkelanjutan serta meminta negara memastikan proses daur ulang produk baterai yang mengandung timbel dan asam (lead-acid batteries) dalam skala nasional dan regional. Limbah pangan dan pola produksi/konsumsi yang berkelanjutan juga menjadi topik penting lainnya. Resolusi ini menyeru dunia turut mencegah hilang atau dibuangnya sepertiga dari jumlah produksi pangan setiap tahun.

Resolusi Gaza
Resolusi penting lain yang tidak boleh dilupakan adalah resolusi konflik kaitannya dengan lingkungan. Salah satu keputusan penting dalam resolusi ini adalah seruan kepada negara-negara anggota untuk mematuhi hukum internasional yang mengharuskan perlindungan lingkungan saat terjadi konflik.

Data dari Toxic Remnants of War Network (TRWN) menyebutkan, pada bulan Februari 2016, Maroko dan negara-negara Arab mengusulkan Resolusi Gaza untuk dibahas dalam Sidang Lingkungan PBB. Resolusi ini juga meminta UNEP melakukan pembaharuan status kondisi lingkungan di Gaza, Palestina yang diduduki oleh Israel. Usulan Resolusi Gaza ditolak oleh Amerika Serikat, Kanada dan tentunya, Israel. Negara-negara Eropa juga mengusulkan perubahan teks yang banyak memangkas isi dan esensi Resolusi Gaza tersebut.

Sebagaimana diberitakan di Hijauku, krisis lingkungan terus melanda Palestina terutama setelah Israel melakukan agresi militer dua tahun lalu. Pendudukan dan perang di Timur Tengah juga merusak potensi pangan dan lingkungan dunia.

Pembaharuan status kondisi lingkungan di Gaza oleh UNEP memerlukan keterlibatan Palestina dan Israel sejalan dengan dukungan finansial dari komunitas internasional. Pembaharuan status lingkungan ini otomatis akan membuka mata dunia atas kondisi lingkungan Palestina terutama di Gaza. Menurut TRWN, pembaharuan status kondisi lingkungan di Palestina tidak akan terwujud dalam waktu dekat, setelah kegagalan Resolusi Gaza yang diblok oleh Amerika Serikat, Kanada dan Israel. Hijauku
Diberdayakan oleh Blogger.