Header Ads

Ratusan Aktivis Perubahan Iklim Gelar Perpisahan Dengan Gletser

loading...
Ratusan aktivis lingkungan dan iklim mengadakan upacara perpisahan dan penghormatan terakhir kepada gletser di Swiss yang akan menghilang beberapa dekade mendatang. Gletser itu dianggap sebagai salah satu korban dari pemanasan global.

Dampak Perubahan Iklim - Gletser Pizol yang sekarang luasnya kurang dari sepersepuluh kilometer persegi terletak di Glarus Alps, timur Swiss. Gletser itu terancam naiknya suhu udara global. Berada sekitar 2.600 meter di atas permukaan laut, gletser itu akan sepenuhnya hilang pada 2030.

"Sudah tak terhitung berapa kali saya mendaki ke sini, rasanya seperti teman baik tengah sekarat," kata glasiologis universitas ETH Zurich Matthias Huss kepada orang-orang yang hadir dalam upacara tersebut, Senin (23/9).

Saat pertama kali, para ilmuwan mencatat luasnya pada 1987 gletser tersebut seluas 0,32 kilometer persegi. Namun, kini luasnya hanya seluas 0,06 kilometer persegi. Buletin Global Glacier Change melaporkan empat tahun lalu gletser tersebut seluas 0,1 kilometer persegi.

Upacara di Swiss yang memiliki 1.500 gletser mengikuti acara pada bulan Agustus lalu, ketika para aktivis dan masyarakat Islandia mengadakan acara perpisahan pada gletser yang mencair di negara itu.

Gerakan aktivisme perubahan iklim di Swiss semakin meningkat. Pada tahun lalu puluhan orang ditangkap karena menghalangi pintu masuk bank-bank yang mereka anggap turut membiayai proyek-proyek energi bahan bakar fosil.

Setelah petisi yang disebut 'Inisiatif Gletser' mengumpulkan 120 ribu tanda tangan, kemungkinan besar negara yang dikenal dengan demokrasi langsungnya itu akan segera memilih iklim netral.

"Sekarang kami tidak bisa menyelamatkan gletser Pizol, tapi jika orang-orang bertindak sekarang, mungkin banyak dampak negarif perubahan iklim dapat diatasi, mari lakukan semua yang bisa dilakukan, jadi ratusan tahun mendatang Anda bisa tunjukan anak-anak dan cucu-cucu Anda gletser di Swiss," kata Huss.

Penulis: Nur Aini | Republika | Reuters
Diberdayakan oleh Blogger.