Header Ads

Pembalut Kesehatan Wanita Menjadi Isu Besar Terhadap Kondisi Buruk Bagi Lingkungan

loading...
Menstruasi tak cuma bicara soal kesehatan wanita, tapi juga kelestarian alam. Menstruasi bisa jadi isu besar di muka Bumi. Penyebabnya adalah pembalut sekali pakai yang menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan.

Limbah Berbahaya - Coba tanya pada diri Anda sendiri, berapa banyak pembalut yang dipakai selama setahun. Rata-rata wanita menggunakan 4-5 pembalut sekali pakai dalam satu hari. Jumlah itu belum dikalikan dengan lama periode menstruasi yang datang setiap bulan. 

"Kalau dihitung-hitung, jatuhnya bisa di atas 300 pembalut per orang setiap tahunnya," ujar penggagas komunitas Zero Waste Nusantara, Jeanny Primasari pada CNNIndonesia, beberapa waktu lalu. Artinya, setiap wanita menyumbang kehadiran 300 sampah pembalut di muka Bumi. Meski tak ada angka pasti, yang pasti sampah pembalut akan tercecer di lautan dan mencemari lingkungan.

Saat dibuang, sampah pembalut mulanya akan teronggok di TPA. Seiring berjalannya waktu, sampah akan menimbulkan gas metana yang mampu mencemari lingkungan. Gas metana adalah salah satu penyebab utama pemanasan global yang ujung-ujungnya berpengaruh pada perubahan iklim.

Belum lagi sampah pembalut yang memerlukan waktu lama untuk kemudian terurai. Jeanny mencontohkan bahan plastik yang terkandung di dalamnya, yang akan terurai setelah puluhan bahkan hingga ratusan tahun. Selain itu, pemutih yang digunakan untuk pembuatan bantalan pembalut juga akan mencemari tanah dan air saat dibuang.

Tak hanya itu, lapisan plastik yang terdegradasi juga akan menjadi mikroplastik saat terbawa ke lautan. Dengan sendirinya, mikroplastik akan menjadi makanan ikan-ikan di lautan dan berakhir kembali pada rantai makanan manusia.

"Kenapa [mikroplastik] bahaya? Karena zat-zat beracun senang menempel di mikroplastik. Kalau termakan, yang bahaya adalah toksin yang menempel dan bisa menyebabkan kanker," jelas Jeanny.

Selain dibuang, pembalut juga sebenarnya bisa dihilangkan dengan pembakaran. Hanya saja, bukannya menyelesaikan persoalan, strategi ini justru menjadikan dampak buruk pembalut bagi lingkungan kian menjadi-jadi.

Dampak buruk itu hadir dalam film dokumenter The Story of Stuff. Film yang bercerita tentang daur 'hidup' barang-barang yang dipakai manusia itu menjadi bentuk kritik akan konsumerisme dan mempromosikan kelestarian lingkungan.

Film berdurasi 21 menit ini memperlihatkan asap dan racun yang muncul dari pembakaran sampah. "Secara volume [barang/sampah] memang berkurang jauh, tapi secara racun, itu meningkat banyak," kata Jeanny.

Pembakaran menghasilkan dioksin. Jika dihirup, dioksin bisa meracuni tubuh. Film yang dirilis pada 2007 lalu itu mendefinisikan dioksin sebagai racun paling berbahaya yang diciptakan manusia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatatkan potensi racun yang dimiliki dioksin. Racun satu itu disebut bisa merusak beberapa fungsi organ dan sistem tubuh. Diperkirakan, tubuh bisa terkontaminasi hingga 7-11 tahun.

Wanita Perlu Melirik yang Serba 'Reusable'
Belakangan, kampanye penggunaan barang-barang ramah lingkungan kian digalakkan. Mulai dari sedotan plastik, gerakan membawa botol minum, hingga kantung plastik berbayar. Gerakan-gerakan ini mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjadi agen perubahan demi bumi yang lestari.

Wanita juga bisa menjadi agen perubahan dengan mengganti penggunaan pembalut menjadi produk yang lebih ramah lingkungan seperti reusable pad dan menstrual cup.

Sayang, belum banyak wanita yang menyadari hal tersebut. Ada banyak alasan yang melatarbelakanginya. Mulai dari kebiasaan yang tertanam sejak dini, anggapan sulitnya menggunakan reusable pad, hingga terbentur tabu untuk menggunakan menstrual cup.

Lihat juga:Menimbang Kelebihan dan Kekurangan Antara Pembalut dan Tampon
Jika masih takut beralih pada menstrual cup, Jeanny menyarankan wanita untuk mulai melirik reusable pad. Namun, perhatikan bahan reusable pad sebelum membeli.

Jeanny mengatakan, bahan dengan komponen microfibre berisiko mencemari lingkungan. Pasalnya, saat dicuci, komponen mudah terlepas dan bercampur dengan air pembuangan hingga ujung-ujungnya meracuni tubuh manusia.

"Pilih bahan yang 100 persen katun. Meski daya tampung lebih besar daripada pembalut sekali pakai, tetap perhatikan durasi penggunaan dan kapan harus diganti," jelas Jeanny.

Penulis: CNN Indonesia
Diberdayakan oleh Blogger.