Header Ads

Sang Raja Hutan Yang Saat Ini Tak Memiliki Hutan

loading...
Sepanjang tahun 2018, Bumi Lancang Kuning Provinsi Riau dihebohkan persoalan harimau (panthera tigris sumatrae) si Raja Hutan yang tidak lagi memiliki hutan. Kondisi itu menyisahkan konflik antara satwa buas dengan manusia. 

Raja Hutan - Pada 3 Januari 2018, kabar menyeramkan ada 3 orang pekerja perkebunan sawit diserang harimau. Dalam kasus ini satu orang pekerja atas nama Jumiati tewas diserang harimau liar yang diberi nama Bonita.

Korban kegenasan harimau ini, merupakan pekerja di perkebunan sawit di Kecamatan Plangiran, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) Riau. Konflik ini, membuat semua pekerja ketakutan. Karyawan sempat diliburkan oleh perusahaan.

Saat itu, tim gabungan dibentuk oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau. Di sana ada pihak kepolisian, TNI, LSM lingkungan, masyarakat, dan perusahaan. Bonita pun mulai 'diburu' untuk diamankan.

Mencari Bonita bukan hal yang gampang. Puncak predator di Indonesia itu sepertinya tahu kalau dirinya tengah dicari. Dia melalang buana dari satu kawasan hutan ke kawasan perkebunan sawit.

Tiba-tiba saja, tim bertemu Bonita di dalam sisa hutan yang sekitaran perkebunan sawit. Jarak Bonita dengan tim bersenjata itu hanya 5 meter saja. Mata Bonita menatap tajam dan menongkrongi para tim yang akan menangkapnya.

Bonita sempat duduk santai sambil mengawasi tim di depannya. Tak lama bantuan tim lainnya datang. Sebelum sampai, Bonita dengan santai pergi dari lokasi itu. Bonita kembali menghilang.

Dua bulan lamanya, perburuan Bonita tak membuah hasil. Alih-alih kabar mengerikan kembali terjadi. Pada Sabtu (10/3/2018), Bonita tiba-tiba muncul dan menyerang warga bernama Yusri.

Yusri yang lagi bekerja membangun rumah ditunggu Bonita di bawah. Saat itu ada tiga orang pekerja. Begitu mereka turun, Yusri jadi sasaran utama Bonita. Malam itu, Yusri diserang dan diseret Bonita ke tepi kanal. Yusri tewas. Tapi ingat, tak ada organ tubuh yang disantap Bonita. Bonita seperti menaruh dendam para pria tersebut. Lagi-lagi, Bonita berhasil kabur.

Tim kalang kabut mencarinya, khawatir akan terjadi korban selanjutnya. Satu sisi, sekelompok warga mendesak agar Bonita segera dibunuh. Tidak mengenal menyerah, tim terus mencari keberadaannya. Karena tidak ada intruksi dari KLHK untuk membunuh Bonita walau sudah dua orang tewas diserangnya. Bonita dan tim seperti kucing-kucingan.

Pada Jumat 16 Maret 2018, tim kala itu berhasil menemukan Bonita. Kali ini untuk mengamankannya, sempat menembak bius malam hari di perkebunan sawit. Setelah tertembak, karena kondisi malam dan kurang penerangan, satwa buas itu kembali 'menghilang' di kegelapan. Lagi-lagi tim gagal menangkapnya. Bonita kembali berkelana ke kawasan perkebunan sawit.

Sesekali Bonita muncul di jalan poros perkebunan sawit. Dia tampak santai bertemu manusia. Malah mobil perusahaan dia datangi. Dia melintas ke sana kemarin di depan warga.

Dua pekerja perkebunan juga terjebak di jalan poros perkebunan sawit bertemu Bonita. Harimau itu tampak santai, tak ada rasa ketakutan yang dia tunjukan.

"Perilaku Bonita sudah menyimpang. Dia seperti kucing, yang tak risih berdekatan dengan manusia. Ini jelas kondisi tak normal sebagaimana lazimnya harimau. Perilaku normal harimau itu menghindari manusia. Kalau Bonita ketemu manusia santai saja, malah kesannya dia ingin bermanja-manja," kata Kepala BBKSDA Riau, Suharyono kepada detikcom.

Kabar Bonita yang berperilaku seperti kucing inipun, akhirnya menjadi pembicaraan para ahli satwa di dunia Internasional. Banyak pihak pencinta lingkungan di dunia ingin bergabung tim. Namun, tim yang ada ingin tetap konsentrasi untuk mencari Bonita tanpa campur tangan pihak asing.

Selama dalam pencarian, Bonita kembali menunjukan hidungnya. Suatu ketika dia masuk perkempungan dan menyerang kerbau warga. Tapi warga berhasil menyelamatkan dari terkaman Bonita.

Tapi anehnya, ketika warga menyelamatkan, jaraknya dengan Bonita hanya sekitar 6 meter saja. Warga dengan santai menarik kerbau yang ditambat dekat rumah penduduk. Warga meminta Bonita melepaskan gigitanya di kaki kiri belakang kerbau. Anehnya, Bonita sepertinya mengaminkan permintaan warga. Gigitan dia lepaskan, Bonita duduk dekat sekolah SD. Dia tampak santai tanpa terusik walau warga ramai melihatnya.

Pada awal April, KLHK merestui kedatangan wanita muda asal Kanada bernama Shakti. Wanita ini hadir untuk membantu tim karena sudah tiga bulan lamanya belum berhasil menangkap Bonita hingga dua nyawa manusia melayang.

Shakti Wolvers Teegh kelahiran 1996 ini memiliki keahlian Animal Communicator. Tapi dia bukan dukun atau pawang harimau. Keilmuannya bukan magic, tapi dia ahli memantau gelombang auman harimau. Gelombang suara harimau ini yang dia akan pelajari untuk mencari posisinya.

Tapi ternyata, kehadiran Shakti juga tidak berhasil mendeteksi keberadaan si Bonita. Tak lama, hitungan belasan hari saja, Shakti meninggal lokasi.

Harimau Bonita terus bersembunyi. Perangkap box trap yang dipasang tim dengan umpan kambing, dia hiraukan. Padahal satwa buas ini mendatangi tempat jebakan tersebut. Bonita setelah melihat umpan, dia berlalu begitu saja.

Puncaknya, setelah pernah lolos usai ditembak bius, pada Jumat (10/4/2018), Bonita berhasil ditangkap tim. Tercatat, ada 113 hari tim melakukan pencarian terhadap Bonita. Diketahui berat badanya 85 Kg termasuk obesitas. Kini Bonita sudah diserahkan ke Pusat Rebilitasi Harimau Sumatera di Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).

Usai urusan Bonita, lagi-lagi muncul persoalan baru. Harimau Sumatera lainnya muncul di Kabupaten Pelalawan. Ternak warga diserang.

Pada 26 September 2018, kabar duka menyelimuti dunia lingkungan. Harimau Sumatera jenis kelamin betina mati mengenaskan karena jeratan warga di Kabupaten Kuansing Riau.

Harimau yang dalam kondisi bunting mati karena jeratan terbuat dari kawat yang diperuntukkan jerat babi. Harimau dalam kondisi bunting yang diperkirakan sepekan lagi akan melahirkan. Hasil observasi diketahui memiliki dua anak dalam kandungannya jenis betina dan jantan. Kedua anak harimau itu turut mati bersama induknya.

Pelakunya Falalini Halawah (41) warga asal Nias, Sumut di Kuansing ditangkap tim penegak hukum KLHM. Dia dijerat soal pembunuhan satwa dilindungi. Pada 29 November 2018, tersangka diserahkan penyidik PPNS ke Kejari Kuansing Riau. Pelaku akan segera menjalani persidangan.

Kabar soal harimau kembali muncul di Riau. Kali ini seekor harimau pada Minggu (15/11/2018) terjebak dalam ruko di Pasar Pulau Burung, Kecamatan Pulau Burung, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) Riau.

Selama tiga hari, harimau ini baru berhasil dievakuasi tim BBKSDA Riau bersama TNI/Polri. Harimau ini nyasar ke pasar karena memang habitatnya sudah terusik.

Dari Kabupaten Pelalawan hingga ke Kabupaten Inhil, dulunya merupakan satu hamparan kawasan hutan alam yakti swaka margasatwa (MS) Kerumutan. Sayangnya bentangan hutan alam itu kini sudah terputus dengan kemunculan perkebunan sawit dan perkampungan dan kawasan hutan tanaman industri (HTI). Harimau Bonita dan harimau yang terjebak di kolong Ruko itu sama-sama harimau yang hidup di luar kawasan konservasi.

"Faktaya di Riau, seluruh harimau atau gajah hidup di luar kawasan konservasi. Bentangan hutan alam mereka sudah 75 persen terdegradasi untuk pemukiman, perkebunan, HTI dan lainnya," kata juru bicara WWF Riau, Syamsidar kepada detikcom, Senin (17/12/2018).

Satwa liar harimau dan gajah, kini hidupnya banyak di kawasan yang tumpang tindih dengan aktivitas manusia. Sehingga kondisi inilah, yang membuat harimau harus hidup di kawasan perkebunan atau HTI di Riau yang menimbulkan konflik.

"Untuk harimau yang terjebak di Ruko jenis jantan remaja. Setelah remaja kebiasaan harimau pisah dari induk dan akan mencari wilayah kekuasaannya. Nah, mungkin dia sudah mencari tapi tidak menemukan habitatnya lagi, akhirnya dia nyasar ke pasar," kata Syamsidar.

Harimau betina bunting yang mati di Kabupaten Kuansing, juga bernasib sama. Harimau yang mati berasal dari SM Rimbang Baling. Kondisi hutan alam itu juga tak luput dari penjarahan. Harimau yang bunting tadi ditemukan mati kena jeratan di kawasan penyanggah SM Rimbang Baling.

"Bentang hutan alam sebagai habitat harimau sudah terputus. Sehingga satwa buas itu harus hidup di alam yang berdampingan dengan manusia. Habitatnya 75 persen sudah berubah fungsi," tutup Syamsidar.

Penulis: Chaidir Anwar Tanjung | Detik News
Diberdayakan oleh Blogger.