Header Ads

Sampah Plastik Yang Sangat Mematikan

loading...
Berita kematian paus jenis Sperm Wale yang terdampar di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra), sungguh memilukan. Sebab di dalam perut paus sepanjang 9,6 meter itu ditemukan sampah plastik dengan jumlah cukup besar, sekitar 5,9 kilogram.

Tragedi Sampah Plastik - Lebih ironis lagi, sampah plastik di dalam perut paus tersebut di antaranya penutup galon, botol plastik, tali rafia, dan sobekan terpal. Ada juga botol parfum, sandal jepit, kresek, piring plastik, gelas plastik, dan jaring. Ini sungguh mengerikan karena sampah plastik tidak bisa dicerna perut paus.

Akibat sampah plastik itu pula, paus kehilangan orientasi navigasi. Paus bahkan tak bisa membedakan makanan dan nonmakanan. Ujung-ujungnya, paus terdampar, lalu mati.

Jika masalah sampah plastik tak segera ditangani, tak menutup kemungkinan paus akan banyak yang mati. Tak cuma itu, bisa jadi pula jenis hewan laut lainnya akan bernasib serupa dengan paus. Di antaranya, penyu, kuda laut, dan lumba-lumba. Hampir semua makhluk laut akan salah mengira plastik sebagai makanan.

Malah yang lebih mengerikan, sampah plastik itu telah mengancam kehidupan manusia.

Ini terjadi karena plastik tak bisa diurai. Plastik juga mengandung zat beracun dan pemicu berkembangnya penyakit kanker. Persoalan sampah sebenarnya sudah meresahkan. Indonesia bahkan masuk dalam peringkat kedua dunia terbesar sebagai penghasil sampah plastik ke laut, setelah Tiongkok.

Selain itu, 100 toko anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia dalam setahun menyumbang 10,95 juta lembar sampah kantong plastik. Jumlah itu setara dengan luasan 65,7 hektare kantong plastik atau sekitar 60 kali luas lapangan sepak bola.

Beberapa waktu lalu juga terungkap mikroplastik di sampel air kemasan yang sering kita minum. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan malah mengumumkan, tiap menit ada lebih dari sejuta kantong plastik yang digunakan. Separuh di antaranya dipakai cuma sekali langsung jadi sampah.

Persoalan sampah plastik tak bisa dianggap urusan segelintir orang, komunitas atau instansi tertentu semata. Sampah plastik telah menjadi wabah yang menakutkan dan mengancam kehidupan.

Sejumlah cara pernah dibahas, seperti penerapkan cukai plastik. Namun, dalam perkembangannya tak jelas ujungnya. Padahal, dengan cukai bisa mengurangi penggunaan kantong plastik hingga 55 persen.

Entah kenapa, kebijakan cukai plastik hilang tak jelas juntrungannya. Dia seolah ditelan rimba ketika masuk ke meja anggota Dewan Perwakilan Rakyat.

Terungkapnya sampah plastik di dalam perut paus mesti menjadi momentum untuk kembali lagi peduli pada pengurangan plastik. Di sinilah peran pemerintah untuk bersikap tegas pada penggunaan plastik. Sebab, tanpa dukungan pemerintah, akan percuma kampanye antisampah plastik.

Bersamaan dengan sikap pemerintah terhadap sampah plastik, sebaiknya dikembangkan pula alternatifnya, seperti kantong kertas daur ulang atau sejenisnya. Kebutuhan plastik mesti dialihkan untuk pengembangan bahan yang tidak merusak lingkungan.

Kita berharap pemerintah punya kepedulian pada penanggulangan sampah plastik. Harus ada kebijakan yang melarang penggunaan kantong plastik. Harus ada pula tempat sampah khusus plastik dengan nyata, bukan sekadar ada.

Lebih dari itu, pelarangan penggunaan kantong plastik mesti masuk dalam janji kampanye para calon presiden. Ini penting, agar pemimpin kita peduli lingkungan dan mempunyai wawasan menjaga keseimbangan alam semesta.

Penulis: Koran Jakarta
Diberdayakan oleh Blogger.