Header Ads

Romeo, Orangutan Jantan Ini Membutuhkan Waktu Selama 24 Tahun Untuk Dapat Kembali Ke Hutan

loading...
Romeo, orangutan jantan tua dengan bobot 93 kilogram, kini berumur 30 tahun. Perlu waktu yang begitu lama bagi orangutan ini untuk kembali seutuhnya ke hutan alaminya pada saatnya nanti.

Flora & Fauna - Romeo, salah satu yang paling tua di antara ratusan individu yang ada di Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Samboja Lestari di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Ia baru saja menempati pulau adaptasi atau pulau pra lepas liar, yakni pulau terakhir sebelum lepas liar seutuhnya ke hutan alaminya.

Sebelumnya, ia banyak tinggal di kandang.

“Romeo perlu beradaptasi dengan baik di pulau pra-pelepasliaran ini, jika kelak akan bisa dilepasliarkan di hutan,” kata Dr. Ir. Jamartin Sihite, CEO Yayasan BOS, melalui pernyataan tertulis pers-nya usai melepas Romeo ke Pulau 5 di lingkungan BOS Samboja Lestari, Rabu (7/6/2017).

BOS merupakan yayasan yang mengembangkan program rehabilitasi dan reintroduksi bagi orangutan akibat dampak kerusakan hutan masif di Kalimantan. Melalui program ini, orangutan bisa diselamatkan dan kembali liar ke hutan belantara.

“Kami berikan kebebasan kepada satu orangutan kami setelah lama hidup di Samboja Lestari ini. Ia kini hidup di alam terbuka setelah 24 tahun mendekam di kompleks dengan ruang gerak terbatas. Hari ini dia pindah ke pulau pra-pelepasliaran ini. Kami perlu mengamati perkembangannya di lingkungan alami. Kami bantu menyiapkan agar dia bisa lepas liar ke hutan alaminya,” kata Jamartin.

Romeo dipulangkan dari Negara Taiwan ketika berusia 6 tahun di 1993. Saat itu ia datang dengan membawa sakit hepatitis sehingga memerlukan penanganan khusus. Ia harus menjalani perawatan dan isolasi. Ia banyak hidup dalam kandang.

Romeo membutuhkan waktu begitu lama untuk bisa bergabung dengan orangutan lain dan mulai belajar di sekolah orangutan ini. Belum lagi, jumlah orangutan semakin banyak yang berhasil diselamatkan dan memerlukan ruang yang leluasa di pulau-pulau pra lepas liar di sana.

BOS mengelola tujuh pulau Samboja Lestari sebagai arena pra pelepasliaran. Tujuh pulau itu mampu menampung 30-an individu.

Tiga di antara pulau-pulau itu merupakan pulau paling baru. Adanya pulau baru, salah satunya dinamai Pulau 5, membuat Romeo akhirnya bisa ditempatkan di sana bersama dua betina yang telah lebih dulu dipindahkan, yaitu Fani dan Isti.

“Setiap orangutan yang telah lulus Sekolah Hutan, ditempatkan di salah satu pulau ini sebelum dilepasliarkan di hutan,” kata Jamartine.

Semua pulau dikemas mendekati kondisi hutan sebenarnya. Di sana, orangutan akan merasakan hidup di udara terbuka, para pengawas bisa memantau kemajuan dan adaptasi mereka, serta mengetahui potensi orangutan untuk dilepasliarkan ke hutan.

“Biasanya memerlukan 2 hingga 3 tahun sebelum lepas liar ke Hutan Kehje Sewen. Tahap awalnya, kita lihat 6 bulan awal,” kata Suwardi, Staf Komunikasi Samboja Lestari.

Sepanjang 2017 ini, Yayasan BOS telah lepasliarkan 13 orangutan ke Hutan Kehje Sewen di Kutai Timur.

Sebelum mendapat hutan khusus pelepasliaran di Kutim ini, program pelepasliaran terus mengalami hambatan karena terbatasnya hutan. Program lepas liar pun sempat terhenti selama 10 tahun akibat tidak tersedianya hutan.

Yayasan BOS adalah organisasi nirlaba Indonesia yang berdedikasi terhadap konservasi orangutan Kalimantan dan habitatnya, bekerjasama dengan masyarakat, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, serta organisasi-organisasi mitra di seluruh dunia.

Didirikan sejak tahun 1991, Yayasan BOS saat ini merawat lebih dari 700 orangutan dengan dukungan 440 karyawan yang berdedikasi tinggi, serta juga para ahli di bidang primata, keanekaragaman hayati, ekologi, rehabilitasi hutan, agroforestri, pemberdayaan masyarakat, komunikasi, edukasi, dan kesehatan orangutan.

Penulis: Dani Julius Zebua
Diberdayakan oleh Blogger.