Header Ads

Ternyata Liurnya Bunglon 400 Kali Lebih Lengket Daripada Liur Manusia

loading...
Salah satu jenis reptil kecil yakni bunglon sudah sejak lama menarik perhatian manusia. Ia memiliki berbagai keunikan, mulai dari bentuk mata 360 derajat, kemampuan mengubah warna tubuh mengadaptasi lingkungan sekitar, hingga lidah cambuk yang dapat memanjang hingga dua kali lipat panjang tubuhnya guna memangsa makanan. 

PortalHijau - Bunglon termasuk predator yang memiliki mangsa beragam jenis. Sebut saja seperti serangga, burung, hingga tikus kecil, bahkan tidak menutup kemungkinan mereka juga dapat memangsa bunglon lain. Ketika berburu, bunglon akan menembak lidahnya yang panjang keluar untuk mengejutkan, dan menarik target yang terhuyung ke dalam mulutnya dengan sangat cepat.

Gaya memangsa bunglon ini memang unik, tapi yang menjadi misteri adalah bagaimana ia berhasil melekatkan mangsa seperti serangga agar tidak kabur.

Hasil penelitian terbaru menemukan bahwa bunglon memiliki liur yang superlengket. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di Nature (20/6/2016), liur bunglon 400 kali lebih lengket daripada liur manusia. Hal inilah yang memungkinkan mereka menarik mangsa hingga bobot sampai 30 persen dari berat tubuhnya.

Pascal Damman dan rekan-rekannya dari Universite de Mons di Belgia menggunakan contoh liur dari jenis bunglon yang paling umum, yaitu Chamaeleo calyptratus. Mereka menempatkan jangkrik-jangrik kecil dibalik kaca bening, dan menunggu hingga sang bunglon melontarkan lidahnya yang panjang ke sana. Ketika lidah tersebut mengenai panel kaca akan meninggalkan bekas liur, dari situlah para peneliti mengambil contoh liur mereka.

Untuk menguji seberapa lengket liur tersebut, para peneliti menggulung manik-manik pada piring posisi miring yang telah disiram liur. Dari sini dapat diamati dan diukur seberapa lengket liur dalam mempengaruhi manik-manik yang turun dibandingkan dengan cairan lain. Sehingga memungkinkan mereka untuk menghitung viskositas liur tersebut.

Uniknya, wujud liur tersebut tidak terlalu kental, bahkan lebih berair. Tingkat kekentalannya mirip seperti yang digunakan siput untuk berjalan. Hal ini disebabkan karena kebutuhan dalam memproses bersama makanan.

Jika liurnya hanya selengket liur manusia, diperkirakan bunglon hanya dapat memangsa mahluk lain yang ukurannya 50 kali lebih kecil dari tubuhnya saja. Namun ketika lidah bunglon dalam posisi istirahat, para peneliti yakin liur yang dimiliki akan berkurang tingkat kelengketannya dan hilang sepenuhnya.

Peneliti mengatakan, kelebihan serupa juga dimiliki oleh kodok, katak, dan salamander yang menggunakan lidah mereka untuk mengambil mangsanya.

Air liur bunglon ternyata memiliki tingkat kerekatan sama dengan madu. Hal inilah yang memungkinkan mangsa tertempel di lidah dan masuk ke dalam mulut dengan kecepatan 40 g-force (Gs). Sebagai perbandingan sebuah jet tempur memiliki akselerasi 9 Gs.

Peneliti mengatakan tingkat adhesi yang tinggi ini juga dimiliki oleh reptil lain seperti kodok, katak, dan salamander yang sama-sama menggunakan lidah mereka untuk mengambil mangsanya.

Kesimpulan ini berbeda dari spekulasi masa lalu, di mana menyimpulkan kemungkinan lidah bunglon bekerja dengan efek seperti velcro, atau melalui beberapa mekanisme hisap.

Salah satu keunikan lain yang dimiliki adalah dari bentuk lidah bunglon sendiri. Lidah bunglon memiliki bentuk lebih besar di bagian ujung daripada di tengah. Bagian yang lebih besar ini memungkinkan bunglon untuk menampar mangsa yang lebih besar, dan makhluk lainnya. Setelah terhuyung karena terkena tamparan, baru lidah bunglon mengikatnya dengan liur lengket dan ditarik hingga masuk ke dalam mulut.

Pengetahuan yang didapatkan dari penelitian ini juga menjadi inspirasi para insinyur dalam bidang pembuatan sistem robotik lunak. Dilansir dari NHVoice(21/6), Luis Dormann dari Tufts University in Medford mengatakan bahwa bunglon memiliki sistem tubuh yang menarik. Bunglon menggunakan ototnya saat melakukan gerakan "menembak". Para ilmuwan menyadari bahwa alam merupakan laboratorium yang besar berisi banyak materi penelitian. Yoseph Edwin
Diberdayakan oleh Blogger.