Header Ads

Bank Dunia dan Bank AIIB Mengucurkan US$ 433 Juta Untuk Infrastruktur Pemukiman Kumuh Di Indonesia

loading...
Badan Direksi Bank Dunia dan Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB) menyetujui pemberian pendanaan sebesar US$ 433 juta atau masing-masing US$ 216,5 juta untuk perbaikan infrastruktur pemukiman kumuh di Indonesia.

PortalHijau - Skema pembiayaan bersama pertama antara AIIB dan Bank Dunia ini diharapkan memberikan manfaat untuk masyarakat miskin di seluruh pelosok Tanah Air. Pendanaan ini untuk mendukung Program Nasional Kota Tanpa Kumuh atau KOTAKU.

Program ini dibiayai berbagai sumber, termasuk pemerintah daerah, pemerintah pusat, sektor swasta, masyarakat, juga bank pembangunan multi lateral.

Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo Chaves bilang, sekitar 29 juta penduduk Indonesia hidup di pemukiman kumuh. Bahkan, 11 juta penduduk diantaranya tidak memiliki akses ke sanitasi dan 9 juta penduduk tidak punya akses memadai air bersih.

Akibatnya terdapat masyarakat miskin kota yang membayar air lebih mahal 10–30 kali lipat dibandingkan rumahtangga mampu yang mendapatkan sumber air dari Perusahaan Air Minum atau PAM.

“Proyek peremajaan kawasan kumuh akan memperbaiki taraf hidup jutaan rakyat miskin Indonesia di daerah perkotaan dan mendukung Indonesia untuk pertumbuhan yang lebih tinggi,” kata Chaves, dalam rilis yang diterima KONTAN, Rabu (13/7).

Demi program ini, Pemerintah Indonesia membutuhkan dana sebesar US$ 1,3 miliar selama periode 2015–2019. Program pembangunan yang akan dijalankan di 154 kota ini rencananya akan didukung secara berkelanjutan melalui pinjaman oleh Bank Pembangunan Islam (IDB).

Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia juga telah memberikan dukungan teknis kepada program ini melalui skema terpisah.

Ketua Tim Bank Dunia George Soraya bilang, program ini bisa menjadi jalan keluar untuk membuat kawasan perkotaan yang lebih inklusif. Namun program ini memerlukan usaha dari banyak pemangku kepentingan, termasuk masyarakat miskin di daerah kumuh.

“Warga di daerah kumuh tidak menikmati pertumbuhan kota karena tidak terlibat dalam perekonomian formal, dengan tempat tinggal yang aman dan terjangkau. Mereka juga lebih rentan terhadap bencana alam seperti banjir,” katanya.

Penulis: Fifi Tribun Jambi
Diberdayakan oleh Blogger.