Header Ads

Anggrek Kuping Gajah Dari Indoesia Di Pamerkan di Metropolitan Jindai Botanical Park

loading...
Pertama kali anggrek kuping gajah dari Indonesia dipamerkan kepada umum di daerah Chofu Tokyo Metropolitan Jindai Botanical Park.

PortalHijau - Taman ini berjarak sekitar 30 menit naik kereta dari Shinjuku Tokyo Jepang ke Stasiun Kereta Api Chofu.

"Ini pertama kali dipamerkan kepada umum anggrek kuping gajah (phalaenopsis-gigantea) dari Indonesia," kata Mayama, petugas taman tersebut khusus kepada Tribunnews, Rabu (13/7/2016).

Anggrek ini selain dari Sumatera juga ada di Kalimantan dan sejak tiga tahun lalu dipelihara di taman tersebut. Namun baru kali ini dipamerkan kepada umum.

"Wah cantik sekali ya anggrek ini. Rasanya pertama kali saya melihatnya sudah jatuh hati saya," ungkap Ayako Kumagaya dari Tokyo kepada Tribunnews yang melihatnya pagi ini.

Metropolitan Jindai Botanical Park (Chofu Jindaijimoto cho 5, TEL 042-483-2300) dari Chofu, ngengat anggrek dengan daun terbesar di dunia "Phalaenopsis gigantea, (nama ilmiah Phalaenopsis gigantea)" itu berbunga. (Chofu Keizai Shimbun)

"Secara umum sebenarnya, jenis yang sama mekar telah diambil dari Indonesia sejak 10 tahun lalu tetapi baru dikembangbiakkan secara serius sejak tiga tahun lalu di taman ini," katanya.

Panjang bunga berangkai ke bawah sampai 40 sentimeter. Sangat indah sehingga tak heran banyak pengunjung merasa kagum dengan bunga dari Indonesia tersebut.

Selain anggrek kuping gajah, juga ada bunga lain dengan penampilan seperti wajah kera. Semua bunga tersebut ada di dalam Ruang Anggrek yang dikaca, sehingga udara terjaga dengan baik, di tengah suasana panas di Tokyo bisa mencapai 35 derajat Celcius.

Pameran dibuka sejak 7 Juli dan diharapkan pengunjung bisa hadir sebelum 17 Juli mendatang saat terbaik melihat bunga ini. Setelah itu kemungkinan layu dan kurang baik dilihat.

Taman dibuka sjak jam 09.30 hingga jam 17.00 dengan biaya 500 yen per orang atau 200 yen bagi anak-anak dan pelajar. Usia 65 tahun ke atas 250 yen per orang.

Liputan Richard Susilo dari Tokyo
Diberdayakan oleh Blogger.