Header Ads

Perubahan Iklim dan Peran Hutan

loading...
Perubahan iklim merupakan sebuah fenomena bencana yang disebabkan oleh perubahan nilai dari unsur–unsur iklim baik secara alamiah maupun buatan yang dipercepat dari dampak prilaku dan aktivitas manusia. Perubahan iklim menimbulkan dampak buruk terhadap bumi beserta isinya. Perubahan iklim yang terjadi juga telah mengubah keseimbangan ekosistem yang ada di alam semesta.

PortalHijau - Perubahan nilai yang dari unsur-unsur ikim seperti peningkatan dan penurunan suhu udara, kelembapan suhu udara, peningkatan dan penurunan cura hujan, peningktanan radiasi sinar matahari merupakan implikasi dari kondisi iklim yang berubah. Perubahan iklim juga memicu terjadinya anomali iklim seperti fomena El-Nino yang (musim kemarau yang lebih panjang) dan La-Nina (musim hujan yang lebih panjang).

Sebab dan dampak Perubahan Iklim
Meningkatnya Gas Rumah Kaca (GRK) yang disumbangkan dari polusi dan gas karbon berasal dari aktivitas industi, pertanian konvensional, penebangan hutan, pembukaan lahan hutan dan gambut dengan cara dibakar untuk perkebunan dan  penggunaan bahan bakar fosil, menjadi faktor – faktor pemicu terjadinya perubahan iklim.

Dampak perubahan iklim telah dirasakan oleh seluruh makhluk hidup. Meningkatnya bencana alam seperti banjir, kekeringan, bencana badai dan angin merupakan fenomena bencana yang terjadi di muka bumi ini. Punahnya spesies satwa dan tumbuhan tertentu yang tidak dapat beradaptasi dengan kondisi iklim yang berubah juga menjadi dampak dari bencana perubahan iklim. Selain itu, meningkatnya pertumbuhan virus dan serangan wabah penyakit seperti TBC pada manusia disinyalir sebagai dampak dari perubahan iklim.

Perubahan iklim juga telah berdampak pada penurunan produksi pangan di Indonesia maupun dunia.  Kegagalan panen akibat serangan hama dan penyakit dihadapi oleh para petani kita. Kasus serangan hama Wereng, Walang Sangit, Kepinding Tanah, Trip dan serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri maupun patogen jamur seperti Xanthomonas dan Pylicularia grisae, adalah beberapa contoh kondisi yang saat ini sering dihadapi oleh petani padi. Kegagalan panen juga terjadi karena kekeringan yang melanda sehingga berpengaruh pada penurunan produksi.

Kondisi yang terpapar diatas merupakan dampak-dampak yang ditimbulkan dari perubahan iklim. Keseimbangan ekosistem menjadi tergangu. Kerentanan keselamatan makhluk hidup semakin tinggi.

Peran hutan dalam Penurunan Emisi GRK
Hutan merupakan tempat untuk mengyimpan karbon. namun, risikonya hutan pun dapat melepaskan CO2 ketika ditebang dan dibakar. Oleh karena itu, perlindungan terhadap hutan atau kegiatan lainnya dapat mencegah hutan gundul. Reforestasi atau penghutatan kembali dengan pananaman pohon di  hutan akan mampu meningkatkan cadangan karbon. Semakin luas dan banyak pohon yang ditanam dan tumbuh di hutan, maka semakin banyak karbon di udara yang akan terserap dan semakin banyak oksigen yang dihasilkan dari pohon untuk makhluk hidup. Selain itu, penghutanan kembali juga akan meningkatkan potensi keanekaragaman hayati, menigktakan sumber-sumber mata air yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan, serta mejaga keseimbangan ekosistem alam.

Sebagai respon dalam persoalan perubahan iklim, Indonesia menyatakan komitmennya untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 26-41% pada tahun 2020. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi  hutan terluas di dunia, melalui skema REDD+  turut berperan dalam penurunan emisi dari sektor kehutanan. Indonesia merupakan negara berkembang yang siap dengan pelaksanaan REDD+ karena pada tahun 2007 Indonesia telah masuk menjadi Wordl Bank Forest Carbon Partnership Facility (FCPF).

REDD+ merupakan suatu mekanisme global untuk mengurangi emisi yang berasal dari deforestasi dan degradasi hutan. Mekanisme ini merupakan salah satu opsi paling rendah biaya untuk memangkas emisi gas-gas rumah kaca secara global. Pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, ditambah dengan peran konservasi, pengelolaan hutan berkelanjutan, dan peningkatan cadangan karbon hutan adalah upaya yang saat ini terus dijalankan oleh Indonesia.

Dengan adanya REDD+ suatu negara mendapatkan kredit dari waktu ke waktu agar emisi gas rumah kaca terhindar dengan cara melestarikan hutan. 1 ton emisi CO2 yang tercegah = 1 kredit karbon. Jumlah kredit karbon juga bergantung pada luas hutan dan penyimpanan karbon baru yang diperoleh dari kegiatan reforestasi dan restorasi. Cara mengukur jumlah karbon dalam hutan yaitu apabila berat pohon 10 ton maka 50% berat kering suatu pohon adalah karbon. Cara mengukur karbon yang terkantung dalam pohon yaitu; Menentukan jumlah biomassa yang terkandung dalam pohon; Mengukur diameter dan berat pohon; Mengukur batang, ranting, dan daun dikeringkan kemudian ditimbang. Dan cara mengukur karbon dalam tanah adalah sebagai berikut; Mengambil sampel tanah; Mengukur karbon tanah di laboratorium.

Tulisan merupakan ringkasan materi Perubahan Iklim dan Peran Hutan Dr. Jatna Supryatna pada Kursus Singkat RCCUI Bukittinggi, 15 Agustus 2014
Diberdayakan oleh Blogger.