Header Ads

Panut Hadisiswoyo, Berjuang Demi Orangutan dan Hutan Sumatera

Pejuang Hijau - Ketika mendengar Panut Hadisiswoyo bercerita tentang pekerjaannya, sangat mungkin Anda merasa optimis sekaligus prihatin, tentang masa depan hutan Sumatera.

Berjuang untuk hutan Sumatera dan orangutannya, itulah yang dilakukan Panut Hadisiswoyo selama 15 tahun terakhir. Ia merupakan pendiri sekaligus direktur lembaga konservasi Yayasan Orangutan Sumatera Lestari (YOSL)/Orangutan Information Centre di Sumatera. Tujuannya jelas, untuk membantu menyelamatkan spesies terancam punah di sana, terutama di Ekosistem Leuser.

Sebagai salah satu hutan hujan tropis dataran rendah terbesar di Asia, Leuser bukan hanya rumah untuk orangutan, tetapi juga untuk spesies terancam punah lain seperti badak, harimau, dan gajah.

Ekspansi perkebunan kelapa sawit telah merusak habitat satwa-satwa tersebut. Hal itu mendorong Panut untuk melahirkan kader-kader yang mau dan sanggup berkomitmen untuk memulihkan dan melindungi yang tersisa dari hutan.

"Ketika Anda mendengar Panut bercerita tentang pekerjaannya, sangat mungkin untuk merasa optimis, tetapi juga prihatin, tentang masa depan hutan Sumatera," ungkap Christina Nunez dari National Geographic.

"Orangutan adalah petani hutan terbaik di planet ini, karena mereka tetap membantu regenerasi hutan. Ada begitu banyak hal yang membuat mereka istimewa."

Panut tinggal tak jauh dari Ekosistem Leuser.  Ketika masih di sekolah tinggi, datang ke hutan adalah hal biasa. Hutan seolah-olah memanggilnya.


Ia menuturkan, "Saya tinggal di Kota Medan, dan hutan itu berjarak sekitar 2 jam dari situ. Ketika saya melihat cahaya-cahaya di kota besar, rasanya hidup ini membosankan. Tetapi ketika saya melihat ke hutan, pohon-pohon besar nan megah, hewan-hewan hidup bersama dalam harmoni, saya terkesan dan kagum dengan keajaiban itu."

Awal ketertarikan panut terhadap orangutan bermula ketika ia lulus dari universitas. Saat itu Panut mendapat kesempatan untuk bergabung dengan tim Ekosistem Leuser di Aceh. "Sejak saat itulah, saya benar-benar jatuh cinta dengan hutan," ungkap Panut. 

Kebetulan di sana, Panut bertemu dengan orangutan betina yang datang menghampirinya dengan jarak yang cukup dekat, tak sampai 10 meter. "Kami melakukan kontak mata cukup lama. Saya benar-benar penasaran kenapa orangutan ini mendekati saya," tuturnya.

Saat itu, Panut merasa dirinya seolah sedang bercakap-cakap dengan orangutan itu. "Dia seperti ingin menyampaikan pesan: 'tolong bantu'. Dari situ, saya semakin ingin tahu tentang kehidupan orangutan dan ingin melakukan sesuatu untuk menolong mereka," ujar Panut. 

Bagi Panut, orangutan adalah hewan yang paling cerdas di dunia. Mereka sangat cerdik dalam menggunakan peralatan, membuat sarang dari tumbuh-tumbuhan dan dapat beradaptasi dengan sangat baik.  Ia mengungkapkan, "Banyak hal yang benar-benar membuat saya takjub, terutama bagaimana ibu orangutan mengajarkan bayinya untuk bertahan hidup di hutan, memiliki keterampilan, memanjat pohon, dan menemukan makanan. Bayi orangutan hidup dengan ibu selama enam sampai delapan tahun hanya untuk belajar bagaimana bertahan hidup di hutan. Mengamati dan melihat hubungan semacam itu merupakan hal yang indah."

Tidak hanya itu, orangutan merupakan mamalia arboreal terbesar. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu di pohon-pohon. Mereka makan banyak buah-buahan berbiji. Itu berarti mereka menyebarkan benih dan mereka benar-benar membantu regenerasi pohon di hutan.

Ketika mereka berpindah dari satu pohon ke pohon lain, itu membuat  sinar matahari bisa mencapai tanah hutan sehingga membantu pepohonan kecil lain yang membutuhkan sinar matahari. "Orangutan adalah petani hutan terbaik di planet ini, karena mereka tetap membantu regenerasi hutan. Ada begitu banyak hal yang membuat mereka istimewa," tukasnya.

Yayasan yang dipimpin Panut telah memulihkan 500 hektar hutan yang terdegradasi dan tengah memulihkan 500 hektar lebih kawasan hutan lain. Prosesnya yang memakan waktu lama tidak membuat Panut serta merta menyerah. “Sebenarnya saya juga pernah putus asa melihat kerusakan hutan Sumatera. Tetapi jika tidak melakukan sesuatu walaupun hanya hal kecil, saat itulah kehancuran yang sebenarnya akan terjadi,” katanya.

Alasan itulah yang membuatnya terus berjuang menyelamatkan ekosistem hutan Sumatera. Bersama dengan rekan dan masyarakat setempat, mereka bekerja secara intensif untuk membuat orang lain mengerti bahwa hutan adalah sumber kehidupan, baik bagi hewan maupun manusia disekitarnya. Tidak hanya masyarakat lokal namun pemerintah juga harus memahami bahwa Ekosistem Leuser memberikan nilai ekonomi yang besar dan tidak dapat diganti dengan bentuk lain, bahkan perkebunan sekalipun. (Ali Fatur Rohmah/Sumber: nationalgeographic)

Diberdayakan oleh Blogger.