Header Ads

884 Juta Ton Karbon Dihasilkan Selama Kebakaran Hutan 2015

Kebakaran hutan yang terjadi di Asia Tenggara tahun lalu menyumbang emisi karbon terbanyak sejak 1997. Sumbangan emisi karbon bahkan dikatakan lebih besar dari jumlah total emisi karbon dari negara-negara Uni Eropa. Emisi karbon dioksida mencapai 884 juta ton. 

PortalHijau - Hal tersebut terungkap dari penelitian gabungan antara ilmuwan Belanda, Inggris dan Indonesia diterbitkan dalam jurnal sains online baru-baru ini. Sebagaimana dilansir dari Thestraitimes, Kamis (30/6), penelitian gabungan tersebut merupakan laporan ilmiah pertama yang menggabungkan penghitungan emisi gas rumah kaca dari kebakaran hutan yang  dikombinasikan dengan pengamatan satelit.

"Ada beberapa studi yang terisolasi sebelum di mana orang artifisial mengatur kebakaran di laboratorium untuk mencoba memahami karakteristik kimia dari asap kebakaran di lahan gambut di Indonesia,"

Salah seorang peneliti, dari King College London, Martin Wooster, Selasa (28/6), mengatakan penelitian yang mereka lakukan bertujuan memahami karakteristik kimia dari asap kebakaran hutan gambut Indonesia.

Metode yang pertama-tama digunakan peneliti adalah mengukur tingkat dasar komposisi asap dari pembakaran lahan gambut di beberapa wilayah. Wilayah Kalimantan Tengah yang sempat mengalami kebakaran terparah termasuk ke dalam objek penelitian. Selanjutnya, peneliti menggabungkan data dengan informasi satelit untuk menganalisis perkiraan emisi gas rumah kaca dari kabut asap.

Hasilnya, peneliti menyimpulkan ada 884 juta ton karbondioksida yang dipancarkan dari kebakaran hutan di Indonesia, Malaysia dan Singapura pada 2015. Dari jumlah itu, Indonesia menyumbang jumlah karbondioksida terbanyak, yakni mencapai 97 persen.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa emisi karbon dioksida daerah dari ketiga daerah yang mengalami mencapai  11,3 juta ton per hari pada September dan Oktober 2015. Jumlah itu lebih besar dari total emisi karbon harian 28 negara Uni Eropa yang hanya berjumlah 8,9 juta ton pada periode yang sama.

Salah seorang peneliti kehutanan, Daniel Murdiyarso, mengatakan hasil penelitian diharapkan memberi kontribusi untuk pemahaman yang lebih baik tentang perlunya pencegahan kebakaran hutah. Secara jangka panjang, penelitian diharapkan dapat memperbaiki sistem dan  pengelolaan tanah. "Penerapan studi seperti ini akan membantu para pembuat kebijakan untuk mempertimbangkan faktor emisi sebagai dasar merancang kebijakan mengatasi  kebakaran hutan secara jangka panjang," tutur Daniel.

Singapura, Malaysia dan bagian utara Indonesia terkepung kabut asap akibat kebakaran hutan pada September hingga Oktober tahun lalu. Kebakaran hutan dan asap yang diakibatkannya memicu penutupan sekolah-sekolah, terganggunya transportasi udara dan gangguan kesehatan bagi banyak warga. Dian Erika Nugraheny
Diberdayakan oleh Blogger.