Header Ads

Inspirasi - Cikar Motor Angkut Sampah Dengan Menggunakan Energi Matahari


PortalHijau - Jalanan Denpasar, Bali makin menyempit. Makin banyak ruas jalan malah dijadikan garasi mobil. Truk pengangkut sampah tak menjangkau pemukiman. Muncul lah cikar atau motor dengan bak pengangkut sampah.

Salah satu desa berinovasi dengan membuat cikar listrik. Energi penggeraknya dari panen cahaya matahari dengan bantuan atap solar panel.

Desa Pemecutan, Denpasar Barat juga mendeklarasikan diri sebagai desa yang akan mengelola sampah. Saat ini belum sampai zero waste. Masih ada anorganik yang harus diangkut truk pemerintah ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Bekerja sama dengan sejumlah pegiat energi terbarukan, desa ini merancang cikar listriknya. Baru satu cikar yang diujicobakan selama beberapa bulan ini. Cikar istimewa ini menjadi pusat perhatian warga dan para supir cikar pengangkut sampah.

Atapnya memantulkan cahaya karena plat panel surya yang terpasang di atasnya. Ada 4 plat terpasang untuk memanen panas matahari. Listrik yang dihasilkan disimpan dalam baterai (aki).

Cikar Surya ini mendapat apresiasi Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra yang menurutnya sejalan dengan kampanye lingkungan. Rai Mantra, panggilan pria yang menjadi walikota dua periode ini mencoba mengendarai motor yang tak bising dan berasap ini. “Denpasar bersih dengan energi bersih,” ia berwacana.

Program inovasi berbasis lingkungan disebut akan menjadi prioritas. “Bukan hanya bersih tapi juga memutus penyakit dan lainnya. Kita harus melibatkan anak-anak agar memutus siklus ketidakpeduliaan dari orangtuanya. Revolusi mental dari sampah,” ujar Rai Mantra.

Menurutnya perusahaan juga harus peduli. Ia mencontohkan sampah teh gelas banyak berserakan, dan yang punya pabrik harus bertanggung jawab sosial tak hanya jual produk saja. Ia mengatakan cikar surya ini tak hanya gunakan energi bersih tapi juga bisa menghasilkan listrik yang bisa dijual ke PLN lewat BUMDes.

Lebih Hemat
Agung Putradhyana, pecinta energi surya yang mewujudkan cikar surya pertama dan baru satu-satunya di desa ini. Biaya merakitnya hampir sama dengan harga cikar bahan bakar minyak (BBM). Ia meyakini di masa depan, akan jauh lebih hemat karena tak perlu bensin dan oli.

Panel terpasang kemampuannya 400 Watt per jam. Untuk perhitungan rata-rata, jika mendapat 4 jam sinar optimal maka menghasilkan 1600 Watt sehari. Bisa lebih kalau cahaya lebih terik. Kemungkinan bisa sampai 2400 Watt per jam. “Bisa juga kurang kalau mendung kebangetan,” jelasnya.

Sementara kapasitas aki 4×65 Ampere = 260 Ampere. Daya yg bisa ditampung 12V x 260 A= 3.120 W. Sementara dinamonya 1500 W. “Jadi kalau digas pol bisa pakai 2 jam lah kalau beban wajar. Itu sudah lebih dari cukup untuk operasional seputar kelurahan. Gung Kayon menamakan cikar surya ini KarYa, berisi 2 set aki. Rinciannya, satu set 4 aki 65A dan satu set aki 30A.

Kedua aki bisa dicharge bergantian. “Tak kekurangan daya lah untuk tugas normalnya. Gak ribut, gak ribet, gak polusi. Itu value yang lebih penting,” katanya.

Perawatan teknis yang dibutuhkan adalah perawatan panel agar tetap bersih untuk menyerap sinar dengan baik dan pergantian suku cadang. “Mekanisnya paling bearing yang aus karena pemakaian lama. Bagian elektronik kontroler jika pemakaian over. Aki tentu karena ada umurnya sekitar 2-3 tahun. Jika pemakai tertib, gak banyak masalah. Gak seribet motor BBM lah. Karena moving parts mesinnya tak banyak,” papar Gung Kayon, panggilan pria asal Kabupaten Tabanan ini.

Ia sudah memodifikasi beberapa alat bantu pertanian yang energinya dari surya seperti pemotong rumput, bajak listrik, penggilingan padi, dan lainnya.

Cikar Surya ini bertugas keliling mengangkut sampah rumah tangga di Pemecutan. Sama seperti cikar berbensin lainnya. Masuk ke gang-gang pemukiman padat perkotaan, mengambil sampah pinggir jalan, lalu membawa ke tempat pemilahan.

Suada, salah seorang petugas pemungut sampah dengan cikar di Pemecutan mengatakan ingin segera mencoba cikar listrik ini namun baru ada satu unit. “Cikar bensin lebih bising,” komentarnya.

Menurutnya cikar lebih efektif karena bisa masuk jalan sempit. Warga membayar  biaya angkut sampah sekitar Rp15-20 ribu per rumah. Sampah-sampah ini lalu ditampung di depo desa, untuk dipilah. Sisanya diangkut truk kebersihan pemerintah ke TPA Suwung.

Ida Bagus Made Purwanasara, Lurah Pemecutan terlihat senang karena kolaborasinya dengan Gung Kayon mendorong warga mencoba melirik mesin-mesin dengan listrik dari energi matahari. Cikar surya juga dipasangi pengeras suara untuk kampanye-kampanye sampah. “Selain merawat panel juga ganti aki 3-4 tahun sekali. Biaya bensin ganti dengan beli aki,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah membantu mengembangkan bekerja sama dengan sekolah mesin untuk merakit lebih banyak. Saat ini motor listriknya masih dibeli di Tangerang. Kelurahan Pemecutan saja jumlah warganya hampir 5000 KK, jumlah cikar pengangkut sampah masih kurang.

Saat Purwanasara memamerkan cikar surya desa, istrinya juga memperkenalkan komunitas sepeda listrik. Ida Alit Maharatni memajang aneka motor dan sepeda listrik yang sudah digunakan anak-anaknya ke sekolah.

Keduanya juga mengelola Koperasi Amongasidhi yang sedang mempersiapkan kredit pembiayaan panel surya untuk rumah atau alat elektronik non BBM lainnya.

Gung Kayon mengingatkan pemerintah serius mengembangkan industri tanpa bakan bakar fosil. Misalnya serius mendorong lulusan teknik mesin membuat suku cadang untuk mesin energi surya tak hanya untuk merek-merek premium yang masih jor-joran menjual aneka kendaraan dengan BBM.

“Harusnya yang begini tugas negara untuk menjadikannya produk dalam negeri. Kelistrikan hampir semua produksi China. Aki bawaan cikar surya juga China. Semua masih nyaman dengan keberadaan motor biasa. Ya dealer, tukang pajak, dagang minyak. Padahal kalo dihitung alat-alatnya jauh lebih ribet motor biasa,” papar arsitek yang baru-baru ini diajak terlibat dalam perencanaan Kawasan Nasional Energi Bersih. Pemerintah akan memusatkan di Bali dengan membangun Center of Excellent.

Kebijakan Energi Bersih
Inisiatif sederhana sesuai kebutuhan warga memang tak terlalu mendapat fokus perhatian, seperti terlihat di Bali Clean Energy Forum (BCEF) 2016 yang berlangsung Februari lalu di Nusa Dua, Bali. Konsentrasi anggaran dan investasi terlihat di pengembangan megaproyek.

BCEF menghelat pertemuan melingkupi lima bagian pertemuan tingkat menteri 26 negara, pemangku kepentingan, para ahli, forum bisnis, dan pertemuan anak muda. Sejumlah kesepakatan dipaparkan dalam Dokumen Misi Bali untuk Energi Baru untuk nasional dan global.

Dalam BCEF ini juga muncul kesepakatan bidang energi bersih dan terbarukan dengan total investasi Rp 47,2 triliun antara lain, pembangkit panas bumi berkapasitas 765,5 MW, pembangkit surya 150 MW, dan terminal penerima gas alam cair (LNG) berkapasitas 125.000 m3 yang diperkirakan menyerap tenaga kerja lebih dari 18 ribu orang.

Dari penambahan 35.000 MW daya listrik yang ditargetkan selama 5 tahun kepemimpinan Jokowi, sebanyak 25% atau 8750 MW adalah pembangkit listrik energi terbarukan. Sebagian besar masih dari gas 25% dan batubara 50%.

Pertumbuhan pembangkit listrik dari energi terbarukan ini ditargetkan terdiri dari 20% geothermal, 28% mikrohidro, bioenergy 13%, panas, angin, gelombang laut dan lainnya 39%. Nilai investasi yang dibutuhkan sekitar Rp 402 triliun.

Banyak proyek-proyek besar pembangkit energi terbarukan era SBY yang mangkrak. Hal ini diakui Tri Mumpuni, perempuan penerima sejumlah penghargaan bidang lingkungan tingkat global, Direktur Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka) dan kini staf ahli Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral. Ia mengajak warga melaporkan jika ada proyek-proyek seperti panel surya dan kincir angin mangkrak seperti yang terjadi di Nusa Penida, Klungkung dan PLTS terbesar era mantan menteri ESDM Jero Wacik di Kecamatan Kubu, Karangasem.

Tri meyakini seluruh kawasan di Indonesia punya potensi teknologi yang bisa dikembangkan. Saat ini menurutnya sejumlah kawasan terpencil seperti pulau terluar mulai memanfaatkan sejumlah produksi energi bersih seperti panel surya dan mikrohidro.

“Teknologi harus sesuai, sebagus apa pun kalau masyarakat tak mampu mengoperasikan tak akan berhasil,” ingatnya.

Rida Mulyana, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementrian ESDM dalam konferensi lain bertajuk Renewable Energy Forum di Bali menyebut kedaulatan energi adalah program Nawacita Presiden Joko Widodo.

Sebanyak 26% target penurunan gas rumah kaca pada 2030, sebesar 4-5% diproyeksikan dari energi terbarukan. Target 23% penggunaan energi terbarukan 10 tahun mendatang disebutnya cukup ambisius karena perlu dana, pasar dan teknologi sementara semuanya saat ini masih mengimpor. “Ambisius 23% karena sekarang baru 6%. Dalam 10 tahun harus empat kali lipat. Kita masih senang fosil. Kebijakan akan didorong ke sana,” sebutnya. (Luh De Suriyani - Mongabay)
Diberdayakan oleh Blogger.