Header Ads

Amerika Serikat Menggelontarkan Dana Segar 50 Juta Dolar AS Untuk Pengelolaan Hutan Indonesia

PortalHijau - Pemerintah Amerika Serikat menggelontorkan dana 50 juta dollar AS untuk membantu pengelolaan hutan secara berkelanjutan di Indonesia. Dana digelontorkan melalui Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) ini akan memprioritaskan kerja di empat provinsi.

"Program baru senilai 50 juta USD untuk beberapa provinsi di Indonesia, seperti Aceh, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Papua. Belum tahu apakah program serupa juga berlangsung untuk Kalimantan Timur," kata Duta Besar AS untuk Indonesia Robert O Blake Jr di Balikpapan, Senin (25/4/2016).

Pengelolaan hutan berkelanjutan bagian dari upaya menurunkan emisi gas rumah kaca. Program ini berupaya mewujudkan pengelolaan hutan secara bijak untuk menjaga kelangsungan hidup hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada hutan.

Tanpa pengelolaan berkelanjutan, keberadaan hutan dan gambut tidak akan langgeng dan berdampak pada punahnya habitat satwa liar dan sumber air bersih. Tragedi kebakaran lahan di September dan Oktober 2015 menjadi contoh akibat dari pengelolaan hutan tidak berkelanjutan.

"Program ini fokus bagaimana kita memberikan dukungan bagi praktek pengelolaan hutan kelanjutan. Caranya dengan menjamin mata pencaharian bagi orang yang tinggal di sekitar (hutan) itu, kita bantu mata pencaharian mereka, sehingga tidak perlu menebang hutan," kata Blake.

Para petani karet di Kalteng merupakan salah satu kelompok warga yang merasakan bantuan program ini. Petani di sana hidup di kawasan gambut. Mereka ditunjukkan bagaimana menanam karet di kawasan gambut dengan tidak merusak gambut, tetapi tetap bisa memberi keuntungan bagi masyarakat.

"Kita tunjukkan pada mereka menanam pohon karet di tanah gambut. Bila mereka pertahankan kondisi tetap basah, maka bisa menggandakan panen karet," kata Blake.

Ia mengatakan, program ini juga menjangkau petani di Papua. Mereka yang terbantu, seperti petani di kebun vanila, lada, cengkeh, yang semuanya adalah tanaman komoditas tinggi.

"Bila perusahaan Amerika turut membantu ekspor komoditi ini ke Amerika, maka akan bisa membantu meningkatkan kesejahteraan. Mereka bisa sejahtera tanpa perlu menebang hutan,” kata Blake.

Program ini, kata Blake, sejalan dengan gagasan Presiden RI Joko Widodo yang mengeluarkan maklumat moratorium pembangunan di lahan gambut. Gagasan ini dinilai sebagai semangat melindungi hutan Indonesia sebagai negeri yang memiliki cadangan karbon yang besar.

Tak hanya tentang moratorium, gagasan Jokowi seperti pembangunan maritim, ekonomi digital, dan usaha kreatif warga menunjukkan pemerintah Indonesia memikirkan masyarakat bisa memperoleh mata pencaharian dengan tidak selalu mengandalkan dari sumber daya alam.

Blake tengah melakukan lawatan ke Balikpapan dan Samarinda selama dua hari. Pada hari pertama, Minggu (24/4/2016), Blake menghadiri puncak perayaan serta kelulusan program Go Girls! Empowerment through Running yang disponsori oleh Kedutaan Besar AS.

Selain itu, ia berkeliling ke Samarinda, memberi pidato tentang potensi digital ekonomi di Universitas Mulawarman Samarinda, dan mengunjungi Masjid Islamic Center. Dani Julius Zebua - Kompas
Diberdayakan oleh Blogger.