Header Ads

Penyelundupan Ratusan Trenggiling Lewat Laut Belawan Digagalkan

loading...
Direktorat Kepolisian Air (Dit Polair) Kepolisian Daerah Sumatera Utara, menggagalkan upaya penyelundupan ratusan trenggiling ke Malaysia lewat Pelabuhan Belawan, Deli Serdang.

Kombes Pol Tubuh Musyareh, Direktur Dit Polair Polda Sumut, kepada Mongabay, Rabu (12/11/2015) mengatakan, penyelundupan digagalkan saat petugas patroli laut di sekitar Perairan Belawan, Rabu dini hari.

Petugas melihat kapal laut Rezeki Abadi, nomor lambung GT 5 melintas. Ketika diberhentikan, nahkoda kapal, Faisal, mempercepat laju. Petugas berhasil menyetop. Mereka tidak bisa menunjukkan surat menyurat. Marasa curiga, petugas naik ke kapal dan memeriksa barang bawaan. Alhasil, ditemukan sedikitnya 102 trenggiling dalam pembungkus hitam. Dari ratusan itu, sembilan trenggiling mati.

Petugaspun langsung mengamankan trenggiling. Satu nahkoda, dan tiga awak kapal diamankan, yakni, Andi, Hari, dan Taufik.

Dari pemeriksaan awal, katanya, terungkap harga satu trenggiling sampai Rp5 juta. Jadi, dari barang bukti diperkirakan seharga Rp450 juta.

Dari pengakuan tersangka, rencananya transaksi trenggiling di tengah laut perbatasan Indonesia-Malaysia. Ada dugaan kuat pelaku bagian jaringan internasional, mengingat cara kerja rapi. “Kami duga mereka pemain lama, sudah berulang kali beraksi.”

Lepas liar dan lahir di perjalanan
Setelah mendapatkan informasi, Balai Besar Konservasi dan Sumberdaya Alam (BBKSDA) Sumut lalu ke lokasi. Ada 93 trenggiling hidup, satu betina mau melahirkan. Empatbelas jam pasca pembongkaran kasus, satu induk melahirkan kala dibawa Ditpolair ke hutan Sibolangit, Deli Serdang.

Joko Iswanto, Kepala Seksi Perlindungan Pengawetan dan Perpetaan BBKSDA, mengatakan, sudah menurunkan dokter untuk memeriksa kesehatan induk dan bayi. Mereka semua dilepasliarkan, termasuk si bayi. “Di alam liar, peluang hidup lebih besar. Bayi Trenggiling sehat.”

Joko mengatakan, perairan Sumut sangat terbuka, hingga BKSDA kesulitan pemantauan. Salah satu upaya pencegahandengan menggandeng Bea Cukai, TNI-AL, dan pihak lain terkait, termasuk organisasi seperti Wildlife Crime Unite (WCU)-WCS.

Kasus ini, kata Joko, kali kedua dibongkar penyidik kepolisian. Sebelumnya Mabes Polri 23 April 2015, membongkar perdagangan trenggiling di Kompleks Pergudangan Niaga Malindo KIM I Medan. Hasil sitaan, lima ton trenggiling mati, puluhan hidup.
Diberdayakan oleh Blogger.