Header Ads

Energi Biomassa Merupakan Energi Terbarukan

loading...
Energi Biomassa
Oleh: Hodlan JT Hutapea. Salah satu sumber energi terbarukan yang saat ini sedang dikembangkan di Indonesia adalah energi biomassa. Kelimpahan energi biomassa di Indonesia sebagai salah satu bahan baku energi terbarukan di antaranya diolah menjadi bioetanol kapasitasnya sangatlah tinggi.

Data menunjukkan, potensi energi biomassa yang dimiliki negara kita mampu membangkitkan energi listrik hingga 49.810 megawatt.

Namun, bila dibandingkan dengan potensi secara keseluruhan, persentase pemanfaatannya masih tergolong kecil, hanya sekitar 1 % dari ketersediaan bahan bakunya. Padahal Indonesia sangat kaya akan potensi ini, sebab sampah organik (sampah rumah tangga dan limbah perkebunan) ada di mana-mana, menyebar di seluruh wilayah nusantara.

Teknologi yang digunakan untuk mengolahnya pun tidak begitu sulit. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga sudah mampu mengembangkan teknologi sederhana yang bisa diaplikasikan oleh masyarakat awam. Kotoran atau sampah rumah tangga dan limbah perkebunan tinggal difermentasi di dalam suatu reaktor untuk menghasilkan gas metana. Gas ini bisa langsung dipakai untuk keperluan memasak seperti layaknya pemakaian gas elpiji. Bisa juga digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik dan dialirkan untuk keperluan rumah tangga.

Selain untuk menghasilkan energi listrik, Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) biomassa juga bisa memecahkan permasalahan menumpuknya sampah, terutama di wilayah-wilayah perkotaan. Setelah gas metana habis terbakar, sisa biomassa ini juga bisa dijadikan pupuk organik yang sangat bermanfaat untuk kesuburan tanah dan tanaman. Jadi, tiga manfaat bisa didapat sekaligus yakni energi, lingkungan, dan ekonomi. Relatif tidak ada kendala berarti di bidang pengembangan energi biomassa ini. Hanya pemanfaatannya yang masih perlu diperbanyak lagi.

Bioetanol Generasi Kedua
Pada awalnya, PLT biomassa hanya dikenal menggunakan bahan baku dari bahan pangan yang banyak mengandung zat pati dan gula. Kini muncul bioetanol generasi kedua berbahan baku limbah hasil perkebunan, kehutanan, dan pertanian. Dan bioetanol generasi kedua ini telah siap menggantikan bahan bakar bensin yang merupakan sumber energi berbahan fosil yang tidak dapat diperbaharui.

Untuk menghasilkan bioetanol generasi kedua, teknologinya menggunakan pemurnian selulosa. Selanjutnya menggunakan enzim untuk proses fermentasi yang menghasilkan bioetanol. Hasilnya diproses hingga memiliki kemurnian 99,5 persen untuk siap digunakan sebagai bahan bakar mesin.

Pabrik bioetanol di Indonesia salah satunya berada di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) Serpong, Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Pabrik bioetanol ini dibangun atas kerjasama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan Korea International Coorporation Agency (Koica). Uji coba pertama pabrik ini memanfaatkan tandan kosong kelapa sawit yang diperoleh dari perkebunan sawit di Malingping, Banten. Sebanyak 600 kilogram biomassa limbah sawit itu mengasilkan 27 liter bioetanol dengan kadar 99,9 persen.

Namun, ada kendala yang dihadapi pabrik biomassa ini, yakni mengangkut biaya produksi. Nyatanya biaya produksi bioetanol generasi kedua belum mampu bersaing meski harga bensin tidak disubsidi. Untuk mengatasi masalah besarnya biaya produksi, salah satu caranya adalah dengan meningkatkan efisiensi pada tahap fermentasi.

Setelah pemurnian selulosa, efisiensi pada proses fermentasi dengan enzim berpeluang ditingkatkan untuk menghemat biaya produksi. Proses fermentasi menghasilkan bioetanol dengan kadar enam persen. Artinya, kadar air pada bioetanol masih 94 persen. Proses destilasi, yakni pemisahan air dan bioetanol, memakan banyak energi sehingga memerlukan modal besar. Efisiensi kinerja enzim perlu ditingkatkan sehingga kadar bioetanol dapat ditingkatkan jauh di atas enam persen (Nawa Tunggal, 2012).

Bahan bakar nabati terbagi antara biodiesel dan bietanol. Biaya produksi keduanya saat ini belum mampu bersaing dengan harga bahan bakar konvensional dari fosil. Produksi biodiesel dari limbah kelapa sawit diperkirakan Rp 8.000 sampai Rp 10.000 per liter. Biaya produksi bioetanol di atas biaya produksi biodiesel.

Proses destilasi untuk memisahkan kandungan air pada bioetanol sampai 99,5 persen sesuai syarat menjadi bahan bakar nabati. Diperlukan pemberian tekanan dan penyerapan (pressure swing absorption/PSA) untuk meningkatkan kadar bioetanol secara optimal. Bioetanol banyak dihasilkan masyarakat hanya melalui proses destilasi, tidak sampai dengan PSA. 

Kadar air bioetanol memengaruhi proses pembakaran pada mesin. Kadar air di atas 0,5 persen bersifat korosif dan bisa mempercepat keausan mesin.

Memproduksi bioetanol sangat dipengaruhi oleh jenis bahan bakunya. Bahan baku bioetanol generasi kedua paling bagus adalah ampas tebu. Ampas tebu memiliki selulose tinggi dan masih memiliki kadar glukosa yang mempercepat proses fermentasi menghasilkan bioetanol. 

Pilihan limbah industri kelapa sawit paling memungkinkan untuk berkelanjutan mengingat produksi kelapa sawit di negara kita kian hari kian meningkat.

Bioetanol generasi kedua paling berpeluang diproduksi dalam skala massif untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Meskipun belum mampu bersaing dalam hal biaya produksi, namun bioetanol makin memiliki prospek seiring dengan menipisnya cadangan minyak bumi.
Diberdayakan oleh Blogger.