Header Ads

Mengungkap Mafia Gading Gajah di Aceh

loading...
PortalHijau.com - Populasi gajah di Aceh terus menurun setiap tahun. Kebanyakan gajah liar ditemukan mati tanpa gading. Serambi menukilkan sebagian kisah pembantaian gajah oleh pemburu gading dalam laporan kali ini.

PAPA Genk. Nama itu kini hanya tinggal cerita atas ganasnya perilaku manusia terhadap gajah di hutan Aceh. 
Gajah dewasa berusia 30 tahun itu mati mengenaskan dengan kondisi leher putus setelah terjebak ranjau besi di Desa Ranto Sabon, Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya, pada 13 Juli 2013. Gading Papa Genk seberat 25 kg (setara dengan Rp 250 juta) juga hilang diambil pembunuhnya. Kematian Papa Genk meninggalkan duka mendalam bagi Rosa dan Suci, istri dan anaknya. Kedua mereka berhari-hari “meratapi” kematian Papa Genk dalam perasaan getir. Kasus Papa Genk merupakan potret betapa buramnya nasib gajah-gajah di Aceh saat ini. Satwa yang dilindungi dan kerapa dipanggil dengan nama Po Meurah--bermakna “Raja Yang Mulia”--itu semakin terancam kehidupannya. 

Sepanjang 2012-2014, setidaknya 22 ekor gajah ditemukan mati di hutan Aceh. Semua gajah ini mati dalam kondisi mengenaskan. Ada yang ditombak, diracun, masuk dalam jebakan maut, hingga dibunuh ramai-ramai. Kasus terakhir terjadi pada 11 April 2014. Seekor gajah kembali ditemukan tewas mengenaskan di kawasan hutan Desa Teupin Panah, Kecamatan Kawai IV, Kabupaten Aceh Barat yang terjerat perangkap pemburu gajah liar. Kepalanya putus dipotong mesin chainsaw dan kedua gadingnya lenyap.

“Selama ini tidak ada satu pun kasus kematian gajah yang terungkap dan pelakunya diadili. Kecuali hanya kasus kematian Papa Genk,” kata Communication Officer World Wildlife Fund (WWF) Perwakilan Indonesia, Chik Rini kepada Serambi, Sabtu (17/5). Kasus kematian Papa Genk sempat mengundang perhatian serius Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. SBY meminta diusut kasus itu. Polisi pun ketika itu menetapkan 14 orang sebagai tersangka. 

Lembaga International Union for Conservation of Nature memasukkan gajah Sumatera (Elephant Maxiumus Sumatranus) ke dalam daftar binatang yang hampir punah karena penyusutannya sangat drastis. Pada 1985, gajah Sumatera masih berjumlah 5.000 ekor. Kini, jumlahnya tinggal 2.000-an ekor. Sedangkan WWF Indonesia melaporkan, pembunuhan gajah Sumatera cukup tinggi. Selama 2012, 14 gajah mati, sebagian besar diracun di perkebunan sawit. Peristiwa ini terjadi di Aceh Barat, Aceh Jaya, Aceh Selatan, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Bireuen. Tahun 2013, tercatat sudah tujuh gajah mati di Aceh Utara, Aceh Jaya, dan Aceh Timur.

Berdasarkan catatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh tahun 1996, populasi gajah di Aceh, diketahui berkisar antara 600-700 ekor (hasil riset lembaga IUCN). Tapi kini tersisa hanya sekitar 400 ekor saja. 
Gajah-gajah itu, antara lain, tersebar di kawasan hutan Ulu Masen dan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Padahal, jumlah gajah di Aceh sebelum tahun 2003-2004 masih sekitar 800 ekor. Communication Officer WWF-Indonesia, Chik Rini, menilai populasi gajah di Aceh semakin terancam menyusul banyaknya kasus kematian gajah. “Keberadaan gajah Sumatera saat ini sudah dalam status meningkat dari kritis menjadi terancam punah. Gajah di hutan Sumatera sudah berkurang 50 persen dalam sepuluh tahun terakhir. Jika pembunuhan gajah ini terus terjadi, maka 10 sampai 15 tahun ke depan gajah akan punah di hutan liar,” ujarnya. 

Mengancam populasi
WWF Indonesia memetakan setidaknya ada tujuh wilayah yang dikategorikan sebagai “kantong gajah” di Aceh, yaitu: Bireuen, Bener Meriah, Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Tenggara, Pidie, dan Aceh Timur. Untuk wilayah hutan Sumatera, Aceh merupakan benteng terakhir dari keberadaan populasi gajah hutan Sumatera, setelah Lampung dan Riau.
Gajah di tingkat lokal kedua provinsi itu sudah punah. 

Ironisnya, di wilayah kantong populasi gajah ini kerap dilaporkan banyak gajah yang mati. “Setiap kasus gajah mati ditemukan tidak ada lagi gading. Pelakunya juga kerap tidak tertangkap,” ujarnya. 

Menurut Chik Rini, berkurangnya populasi gajah di Aceh terjadi seiring meningkatnya kerusakan hutan dan alih fungsi lahan hutan di Aceh dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah tidak menyiapkan tata ruang wilayah hutan yang baik sehingga banyak lahan hutan yang semestinya menjadi lahan konservasi diolah sebagai hutan produksi atau perkebunan. Akibatnya, banyak gajah masuk ke perkebunan rakyat atau area hutan produksi. Maka terjadilah konflik antara gajah dan manusia. 
Gajah-gajah yang merusak tanaman perkebunan dan pertanian,  kemudian dibunuh. Selain itu, pemerintah selama ini juga kerap tidak memperhatikan keberadaan gajah yang berada di luar wilayah konservasi.

“Padahal, 80 persen gajah hidup di luar kawasan konservasi (kawasan yang dilindungi),” sebutnya.

Menurut Chik Rini, gajah merupakan hewan yang unik. Mereka butuh makan banyak dan hidup berkoloni dengan wilayah jelajah yang luas (home range). Namun faktanya, wilayah jelajah gajah ini telah diambil alih manusia dengan membuka lahan perkebunan sawit, karet dan lainnya. Terlebih, kata Chik Rini, gajah sangat menyukai sawit dan karet. Keberadaan kebun sawit dan karet mengundang gajah untuk masuk. Sehingga konflik antara gajah dan manusia tak terhindarkan. Ada manusia yang mati dibunuh gajah, maupun sebaliknya. “Manusia kemudian membenci gajah karena dianggap sebagai pengganggu yang mengancam jiwa,” ujarnya. 

Padahal, kata Chik Rini, membuka lahan sawit dan karet atau sejenisnya di wilayah yang dijelajahi gajah adalah tindakan yang salah 

Berkurangnya populasi gajah di Aceh juga disebabkan perburuan liar gading gajah. Hampir semua gajah mati sudah tanpa gading saat ditemukan. Diduga kuat kematian gajah di Aceh akibat perburuan gading gajah yang melibatkan mafia yang membentuk sindikasi. Di Aceh Barat polisi membekuk enam warga yang diduga terlibat dalam kasus pembunuhan gajah liar pada 15 April 2014. Kasus serupa juga terjadi di Kabupaten Aceh Jaya. 

“Diduga memang ada sindikat perdagangan gading di Aceh. Mungkin bukan hanya gading, tapi juga kulit harimau,” tegas Chik Rini. Perdagangan gading gajah tergolong bisnis menggiurkan. Penelusuran Serambi, harga gading dengan panjang rata-rata 30 cm berkisar Rp 20 juta. Untuk 1 kg gading paling murah Rp 2,5 juta. Kalau perkiraan harga bisa sampai 5-10 juta/kg. Jika ada gading yang beratnya sekitar 25 kg, maka bisa menghasilkan uang Rp 250 juta. 

Di pasar-pasar gelap Eropa, harganya bisa mencapai lebih dari satu miliar rupiah untuk satu gading berkualitas super. “Jumlah gajah yang terbunuh tanpa gading selama ini hanya beberapa kasus yang diketahui. Mungkin banyak gajah yang mati dibunuh di dalam hutan tidak diketahui masyarakat,” ujarnya. 

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh Genman S Hasibuan kepada Serambi tidak menampik jika berbagai kasus kematian gajah di Aceh melibatkan para sindikat. Tindakan itu diancam pidana karena melanggar UU Nomor 5 Tahun 1990.

“Kalau tidak ada indikasi adanya perburuan gading, maka setiap gajah yang mati mestinya tetap utuh bersama gadingnya. Ini kan tidak logis. Untuk lebih detailnya, memang harus dilakukan pembuktian,” tegas Genman. 

Menurutnya, konflik antara gajah dan manusia kerap menjadi dalih masyarakat membunuh gajah. Namun pada kenyataannya hal itu tidak selalu benar. Justru banyak faktor yang menyebabkan konflik itu terjadi. Salah satunya, habitat gajah sudah dirambah manusia dengan berbagai aktivitas perkebunan. 

Menurut Genman, konflik antara manusia dan gajah harus ditangani bersama dengan melibatkan semua instansi karena hal itu sudah mencakupi masalah sosial ekonomi. “Soal adanya indikasi pembunuhan gajah untuk diambil gadingnya masih kami telusuri berkerja sama dengan polisi,” demikian Genman. (serambinews)

Teks FotoGading genk yang diserahkan warga yang mengaku pembunuh, gajah Sumatera ini tengah diukur di Polres Aceh Jaya. (Foto dari video oleh Sapariah Saturi/mongabay)
Diberdayakan oleh Blogger.