Header Ads

Peningkatan Produksi CPO Masih Andalkan Perluasan Kebun

loading...
MEDAN - Mantan Menteri Pertanian Prof Bungaran Saragih mengatakan, Indonesia saat ini menjadi produsen crude palm oil (CPO) terbesar di dunia. Namun, dia melihat upaya-upaya yang dilakukan untuk terus mempertahankan predikat tersebut belum dilakukan secara berkelanjutan.

Belum ada upaya optimal untuk meningkatkan produktivitas tanaman, banyaknya produksi masih mengandalkan penambahan-penambahan areal tanam baru.

"Peningkatan produksi CPO kita sebagian besar masih bersumber dari perluasan kebun, sedangkan sumbangan dari peningkatan produktivitas masih relatif kecil," kata Bungaran yang menyampaikan kuliah umum bagi civitas akademika Universitas Prima Indonesia (Unpri), di aula Rumah Sakit Royal Prima Medan, Rabu (2/4).

Kuliah umum yang diadakan Fakultas Agroteknologi Unpri ini mengambil tema "Membangun Peran Penting Pendidikan Tinggi Bagi Keunggulan dan Keberlanjutan Industri Perkebunan Indonesia" dan dihadiri Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Prima Indonesia dr I Nyoman Ehrich Lister, Ketua BPH Yayasan DR Tommy Leonard, Rektor Prof dr Djakobus Tarigan, dan Dekan Fakultas Agroteknologi Seno Aji.

Bungaran melanjutkan, Indonesia memerlukan strategi baru dalam mengembangkan sistem agribisnis minyak sawit, di antaranya lewat program hulunisasi. "Yakni meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit secara total sebagai cara utama meningkatkan produksi CPO," katanya.

Kemudian program hilirisasi, yaitu mengembangkan industri pengolahan CPO sehingga menghasilkan produk akhir (final product) seperti biofuel, ethanol, oleo pangan, deterjen dan sabun, shampo, produk-produk komestika, produk-produk farmasi, dan lain sebagainya.

Karena itu, lanjut Bungaran, dalam perkembangan mutakhir agribisnis sawit di Indonesia dan strategi membangun agribisnis sawit berkelanjutan, diperlukan peran perguruan tinggi dalam menghasilkan sumber daya manusia berkemampuan 3T, yakni teknologi atau inovasi, talent atau kemampuan berkreativitas, serta tolerance yaitu keberagaman latar belakang SDM di antaranya sikap artikulatif terhadap berbagai ragam ide.

Sementara Dekan Fakultas Agroteknologi Unpri Seno Aji mengatakan, banyak industri perkebunan di Indonesia tidak unggul, bahkan untuk membuka lahan perkebunan mereka melakukannya dengan cara membakar. Padahal setelah ditanami produksinya sangat rendah.

"Belum selesai pembakaran lahan, saat ini stakeholder dunia menuntut bahwa industri perkebunan harus mematuhi konsep kelestarian. Nah, siapa yang membantu mereka, kalau tidak kita dari perguruan tinggi," ujarnya. (MEDAN BISNIS)
Diberdayakan oleh Blogger.