Header Ads

Minim Pengetahuan Petani Bakar Jerami, Penyuluh Harus Berperan Optimal

loading...

KARANG BARU - Sejumlah petani di Kabupaten Aceh Tamiang  belum memahami cara memanfaatkan jerami. Padahal, jerami sangat bagus untuk diolah menjadi pupuk kompos. Faktor pengetahuan yang membuat petani enggan mengolah jerami menjadi kompos. Kebanyakan petani membakar jerami jika usai melakukan panen.

Perilaku di sawah ternyata dapat mengurangi tingkat kesuburan tanah. Bara api jerami tersebut dapat menyebabkan mikroba mati dan tanah menjadi panas. Kebanyakan petani beranggapan bahwa abu jerami yang dibakar nantinya bisa menyuburkan tanah.Demikian disampaikan Ketua Bidang Litbang DPD Ikatan Penyuluhan Kehutanan Indonesia (IPKINDO) Aceh Tamiang Sayed Mahdi,SP. M.Si kepada wartawan.

"Jerami padi menurut penelitian banyak mengandung kandungan hara N, P, K, dan Si. Dengan membakar jerami, tanpa disadari oleh petani berarti telah membakar unsur hara yang sangat berarti bagi pertumbuhan padi. Akibat ketidapahaman petani ini, mengakibatkan sebagian unsur hara hilang terutama unsur-unsur hara mudah menguap dan unsur hara lain yang menjadi tidak tersedia bagi tanaman karena telah dibakar", jelas Sayed.

Dia mengatakan, sejauh ini masih banyak petani yang belum memiliki pengetahuan tersebut, sehingga masih saja membakar jerami di sawah usai musim panen padi.Langkah tersebut tidak dibenarkan dalam disiplin ilmu pertanian. Untuk bisa menjadi bahan penyubur tanah jerami tersebut harus diproses terplebih dahulu, bisa dicampur dengan garam atau larutan EM4 untuk mempercepat proses fermentasi atau pembusukan.

"Untuk itulah perlunya diberikan pemahaman kepada petani, agar petani mampu dan mau mengelola jerami yang dihasilkan dari proses pemanenan, supaya petani tidak lagi menganggap jerami sebagai limbah semata, tetapi petani mau mengganggap jerami sebagai produk sampingan yang sangat bermanfaat dalam menjaga lingkungan dan mendukung serta mensukseskan program pemerintah go organik", katanya

Dia menjelaskan, fenomena pembakaran jerami di sawah itu menjadi bukti bahwa tingkat pengetahuan masyarakat tentang bidang pertanian masih rendah. Karena itu dibutuhkan langkah khusus oleh pihak terkait guna meluruskan pandangan petani tersebut. "Sekali lagi, membakar jerami di sawah sangat merugikan kesuburan tanah. Lebih amanya, jerami itu bisa difungsikan untuk pakan ternak saja," tandasnya.

Selain sangat merugikan kesuburan tanah,pembakaran jerami juga akan menghasilkan CO2 sebagai bahan pencemar polusi udara yang berarti pula petani telah ikut andil dalam perusakan lapisan ozon pada bumi kita. Sehingga akan mempercepat terjadinya pemanasan global.

Pemandangan pembakaran jerami tersebut terdapat hampir di semua wilayah Aceh Tamiang. Salah satunya terjadi di Kecamatan Karang Baru yang baru melaksanakan panen padi. Di sejumlah lahan sawah terlihat terdapat abu hitam bekas pembakaran jerami seperti yang terjadi di Desa Johar dan Desa Medan Arang.

Wagiman warga Johar mengaku tidak mengetahui apabila membakar jerami di sawah bisa mengurangi tingkat kesuburan tanah.

Kegiatan membakar jerami di sawah sudah menjadi hal biasa yang rutin dilakukan usai panen padi. Tujuannya, untuk menambah kesuburan tanah. "Saya benar-benar tidak tahu kalau membakar jerami di sawah itu salah," tuturnya.

Tingkatkan Peran Penyuluhan

Untuk mengatasin persoalan ini, Sayed mahdi berharap penyuluh pertanian yang berada di Badan Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian Kabupaten Aceh Tamiang, perannya harus di tingkatkan.

"Peran Penyuluh yang handal yang mampu mentransfer ilmu dan teknologi kepada petani sangat di harapkan, sehingga petani mau dan paham tentang manfaat jerami itu sendiri, misal bisa dibuat  sebagai kompos, hasil olahan jerami dapat menjadi bahan yang siap dikonsumsi ternak, jerami dapat dijadikan media budidaya jamur, dan jerami juga dapat dijadikan sebagai mulsa tanaman", jelasnya. (M. Hendra Vramenia/STC)


Foto : Jerami padi yang dibakar oleh petani di salah salah satu lokasi persawahan di Kabupaten Aceh Tamiang (M. Hendra Vramenia/STC)
Diberdayakan oleh Blogger.