Header Ads

Aceh Tamiang Produksi Pupuk Organik Granul

loading...
Sampah dan limbah organik yang selama ini dibuang begitu saja ternyata kini dapat memberi manfaat kepada manusia, yakni dengan cara mengolah sampah tersebut menjadi pupuk organik. Seperti yang telah dipraktekkan Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Aceh Tamiang.

Saat ini Aceh Tamiang telah mampu memproduksi pupuk organik berbentuk granul dengan kapasitas mencapai 5 ton per hari. Dengan memanfaatkan fasilitas bangunan 3R (reduse, reuse, recycle) dan perangkat peralatan pembuatan pupuk organik granul bantuan Dirjen Perindustrian tersebut, Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Aceh Tamiang telah mampu memproduksi pupuk organik granul yang ramah terhadap lingkungan serta diharapkan akan mampu mengatasi kelangkaan pupuk di kabupaten Aceh Tamiang.

Kepala Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Aceh Tamiang Drs. Syuibun Anwar menjelaskan bahwa pembuatan pupuk organik granul yang dilaksanakan di Aceh Tamiang, bahan bakunya berasal dari sampah dan limbah organik. Sampah organic berasal dari TPA yang sebelumya telah dipilah terlebih dahulu, sedangkan limbah organic berasal dari tinja manusia yang telah diolah terlebih dahulu di instalasi tinja yang kemudian dikeringkan secara manual menggunakan sinar matahari.

Dan setelah itu barulah diproduksi menjadi upuk organic dengan menggunakan mesin pembentuk granul (pan parabola granulator) hingga pengayakan (rotary screen).Pupuk organik ini, kata Syuibun, sangat menguntungkan bagi budidaya pertanian yang selama ini hanya memperhitungkan pada hasil sesaat tanpa mempedulikan efek rusaknya kesuburan lahan pertanian, akibat penggunaan pupuk non-organik secara berlebihan.

Dan menyebabkan ketergantungan tanaman akan asupan hara dari luar dan menghilangnya kemampuan lingkungan tanaman menyediakan hara secara alamiah. Disamping itu pupuk organik juga bermanfaat besar bagi upaya memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah.

Pupuk organic bentuk granul ini dapat disajikan lebih praktis, efisien dan relatif murah di mata petani. Diharapkan pupuk organik ini dapat menarik minat petani, pekebun dan perkebunan. Syuibun juga mengharapkan dengan adanya produksi pupuk organik di Tamiang yang bahan bakunya berasal dari limbah dan bahan organik, maka akan menghasilkan multi manfaat dan nilai tambah ekonomis.

“Kami optimis bahwa produksi pupuk organic yang telah mulai berjalan ini akan mendapat sambutan positif dari masyarakat maupun dunia usaha. Mengenai ketersediaan bahan baku tidak akan menjadi kendala, karena di Aceh Tamiang sangat banyak potensi yang bisa dijadikan bahan baku, disamping pemanfaatan sampah organik, juga sangat terbuka peluang menggunakan belendet (solid) yang merupakan limbah organik dari proses produksi CPO," ujar Syuibun.

Untuk itu lanjut Syuibun pihaknya kedepan juga merencanakan akan melakukan kerjasama dengan pihak Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang ada di kabupaten Aceh Tamiang guna memenuhi kebutuhan bahan baku yang diperkirakan juga akan semakin meningkat(***).
Diberdayakan oleh Blogger.