Header Ads

Bakau Menyusut, Tangkapan Nelayan Minim

loading...
KUALA SIMPANG - Nelayan di Desa Pusong Kapal, Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang mengeluh sejak delapan tahun terakhir karena hasil tangkapan udang mulai berkurang bahkan turun drastis. Kondisi ini terjadi akibat hutan bakau (mangrove) yang dijadikan tempat bermukim dan berkembang biak ikan-ikan kecil dan udang terus menyusut.

Datok Penghulu Desa Pusong Kapal, Bramsyah kepada Serambi Minggu (27/6) mengatakan, sejak delapan tahun terakhir tangkapan udang di laut mulai menurun, jika sebelumnya nelayan kecil pencari udang bisa membawa pulang uang Rp 300-Rp 500 ribu per hari, sekarang berkurang menjadi Rp 50-Rp 60 ribu. “Susah kalilah sekarang, semalam mereka bawa pulang Rp 50-Rp 60 ribu,” ujarnya.

Uang yang didapatkan, sebut Bramsyah, tidak sebanding dengan biaya yang di keluarkan untuk operasional boat sampan, yakni antara Rp 150-Rp 170 ribu. Saat ini jumlah boat sampan di Desa Pusong Kapal sebanyak 45 unit, satu unit bermuatan dua orang dan semuanya mengandalkan jaring udang.

Karena hasil tangkapan terus menurun untuk memenuhi kebutuhan keluarga, nelayan terpaksa mensiasati, di sela-sela menjaring udang mereka juga mencari ikan namun upaya tersebut juga sama, hasil tangkapannya tetap berkurang. “Dapat ikan sikit kemudian dijual hasilnya juga tidak seberapa,” sebut Datok Bramsyah.

Kabid Budidaya dan Sumber Daya Alam Dinas Perikanan Aceh Tamiang, Hariadi A SH mengakui salah satu penyebab berkurangnya udang di laut karena pengaruh hutan mangrove. Bagi nelayan yang menggunakan bubee untuk menjaring udang, kondisi ini sangat terasa karena mereka beroperasi di sekitar hutan mangrove.

Di samping menyusutnya hutan bakau, kondisi lain yang membuat udang semakin berkurang karena sebagian petambak masih menggunakan racun yang dilarang dan berbahaya bagi lingkungan. Air dari tambak yang sudah diracun kemudian di buang ke alur sungai, menyebabkan bibit udang punah. Kondisi lainnya, sebutnya Hariadi, masih banyak kapal trawl (pukat harimau) asal Belawan beroperasi di perairan laut Tamiang.

Padahal pukat harimau dalam pengoperasiannya memiliki sifat merusak terhadap dasar perairan yang dikeruk, dimana tali dasar jaring pukat yang dilengkapi roda besi dengan berat ratusan kilogram menggelindingkan pukat di dasar laut pada saat ditarik.

Menurut Direktur LSM Lembaga Advokasi Hutan Lestari, Said Zainal M SH, di perkirakan kerusakan hutan manggrove di Tamiang sudah mencapai 15.000 hektare, tersebar di empat kecamatan, Banda Mulia, Manyak Payed, Seruway, dan Bendahara, dari jumlah 22.900 hektare lebih hutan bakau yang ada. ”Kerusakannya bermacam-macam ada karena faktor alam, alih fungsi, ditebang, dan dijadikan lahan tambak,” ujar Zainal.(md)

Sumber : Serambi Indonesia, 28 Juni 2010.
Diberdayakan oleh Blogger.