Header Ads

Hutan Tamiang Terus Digunduli

loading...
KUALA SIMPANG - Kondisi hutan di Kabupaten Aceh Tamiang terus digunduli oleh perambah, baik untuk memenuhi kebutuhan lokal maupun untuk dijadikan lahan perkebunan sawit. Sementara dinas terkait sudah meminta tolong kepada kepala desa agar memantau perambahan hutan di desa masing-masing.

Manager Investigasi Walhi Aceh, M Oki Kurniawan kepada Serambi, Rabu (6/1) mengatakan, warga setiap hari terus “menggunduli” hutan untuk dijadikan lahan perkebunan pribadi maupun perusahaan seperti di sekitar,Gunung Sangkapane, Kecamatan Bandar Pusaka, dan di kawasan hulu Sungai Tamiang.

“Memang, kita lihat ilegal loging dimanfaatkan untuk kebutuhan lokal dan kondisi ini sulit dibendung,” ujarnya. Namun, kata Oki, yang perlu diatur bagaimana penebangan pohon dilakukan secara tebang pilih, menebang pohon tertua sehingga pohon yang masih muda alami dibiarkan tumbuh terus menerus. Kondisi hutan Tamiang saat ini tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik. Menurutnya, terjadi penebangan juga dikarenakan lemahnya pengawasan oleh instansi terkait terhadap hutan Tamiang.

Oki yang mengaku sedang berada di pedalaman Tamiang, juga menyebutkan, faktor lain yang membuat warga di kampung menebang pohon di hutan karena mereka sulit mendapatkan pekerjaan tetap untuk membiayai kebutuhan rumah tangga. Mau tak mau mereka naik ke hutan untuk menebang pohon kemudian menjualnya kepada warga yang lain. Di samping itu kondisi akses infratruktur tranportasi menuju keluar desa juga rusak juga membuat mereka sulit memenuhi kebutuhan sendiri.

“Mereka menanam sayur dan pisang karena jalan transportasi rusak, hasil tanaman mereka tidak bisa di jual ke pasar Kota Kuala Simpang. Prilaku naik ke hutan dan menebang pohon muncul ketika mereka tidak tahu kemana untuk mendapatkan uang,” ujarnya lagi. Karenanya, kata Oki, pemerintah harus peka tidak boleh melihat pembalakan hutan hanya dari satu sisi saja terjadi kerusakan lingkungan. Sementara sisi lain yang juga melekat seperti pekerjaan dan ingin memperoleh penghasilan yang tetap belum dilihat dan dicarikan penyelesaiannya. Mengatasi pembalakan hutan, sebut Oki, bukan dengan cara hanya menangkap lalu menjebloskan pelaku ke dalam sel. Cara tersebut hanya membuat penghentian penebangan sesaat setelah itu mereka kembali dan melakukan aktivitas penabangan pohon seperti biasa.

Pantau
Terkait penilaian tersebut Kadis Kehutanan Aceh Tamiang, Syahri SP mengatakan, untuk meminimalisir perambahan hutan pihaknya sudah meminta tolong kepada kepala desa agar memantau pembukaan lahan dan perambahan hutan di desa mereka. “Begitu juga dengan pembukaan lahan tanpa izin, kita perintahkan untuk dihentikan dan diawasi. Jika belum ada izin kita anjurkan untuk mengurus izin dulu,” demikian Syahri.(md)

Sumber : Serambi Indonesia, 07-01-2010.
Diberdayakan oleh Blogger.