Header Ads

Menggunakan Dokumen Palsu, Arang Kayu Dibawa ke Luar Aceh

loading...
KUALA SIMPANG - Direktur LSM Lembahtari Sayed Zainal M SH mensinyalir, kayu arang bakau yang dihasilkan oleh pengrajin arang di bagian timur Aceh, mudah dibawa ke luar Aceh menuju Sumatera Utara itu dilakukan oleh pengusaha dengan cara memalsukan dokumen Faktur Angkutan Kayu Olahan (Fako) yang merupakan surat keterangan sahnya hasil kayu hutan.

“Beberapa waktu lalu pengrajin kayu arang di Kabupaten Aceh Timur, Kota Langsa, dan Aceh Tamiang, mengeluh dan mengadu kepada Dinas Kehutanan Propinsi Aceh. Pasalnya, para tengkulak yang memodali pengrajin kayu arang tidak membenarkan mereka menjual langsung kayu arangnya ke Medan karena tidak adanya Fako,” kata Sayed Zainal M SH kepada Serambi, Minggu (6/12).

Mereka, kata Sayed, minta kepada Dinas Kehutanan NAD agar mengeluarkan Fako kepada pengrajin kayu arang tersebut sehingga mereka dapat langsung memasarkan arang ke Medan dengan harga yang lebih tinggi. Namun permintaan tersebut tidak dikabulkan. Dalam suratnya Dinas Kehutanan Provinsi Aceh menyebutkan, tidak pernah melayani pelayanan dokumen FA-KB maupun Fako terhadap masyarakat pengrajin dapur arang sesuai dengan suratnya nomor: 522.51/7.182-IV tertanggal 22 Oktober 2009.

Menurut Sayed Zainal, tertangkapnya truk intrukelur yang membawa kayu arang beberapa hari lalu di perbatasan Aceh Tamiang-Langkat, menandakan selama ini beredarnya kayu arang dan dengan mudah dijual ke Medan tanpa memiliki dokumen yang sah.Sayed Zainal menilai harus ada penyelesaian secara menyeluruh terhadap kondisi tersebut karena sebagian pengrajin arang sudah melakukan usaha membuat arang secara turun temurun. Namun di sisi lain, kawasan hutan bakau untuk pemanfaatan kayu arang tidak dilakukan oleh Dinas Kehutanan.

Selama ini, tambah Zinal, keberadaan dapur arang tidak memberikan masukan untuk PAD Tamiang dan kita duga PAD masuk ke tangan oknum. Sementara bila dibiarkan ditebang, hutan bakau terus rusak. Begitu juga dengan hutan bakau di perbatasan Aceh Tamiang dengan Langkat terus ditebang untuk diolah pada dapur arang di Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat.

Ia mengatakan, pengusaha arang di Pangkalan Susu, Sumatera Utara, membeli arang yang ada di Seruway, Aceh Tamiang, melalui transportasi laut. Arang dimasukkan ke dalam boat, lalu dibawa ke Pangkalan Susu. “Dinas Kehutanan Aceh Tamiang mengaku mereka tidak mampu mengatasi masalah ini. Karenanya kita harapkan Dinas Kehutanan Aceh harus turun tangan menyelesaikan persoalan ini secara menyeluruh,” ujarnya.(md)
Diberdayakan oleh Blogger.