Header Ads

60 Persen Hutan Aceh Tamiang Rusak

loading...
Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL) Wilayah Aceh yang dibentuk berdasarkan Peraturan Gubernur No. 52 Tahun 2006 dan sebagai amanat UU RI No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh, mulai melakukan pembenahan terhadap kondisi hutan di Aceh Tamiang, khususnya yang berada dalam Kawasan Ekosistem Leuser.

Kepala BPKEL Fauzan Azima mengatakan tingkat kerusakan hutan yang terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang sangat tinggi. Hasil investigasi lapangan yang dilakukan BPKEL yang bekerjasama dengan kepolisian resor (Polres) Aceh Tamiang, Pemerintah Kabuaten Aceh Tamiang dan masyarakat dari Januari sampai sekarang merincikan dari 79.701 hekar Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di Kabupaten tersebut, hanya 20% yang masih berupa hutan primer, 60% hutan yang telah terdegradasi / rusak dan sisanya 20% tidak lagi berupa hutan. Kerusakan hutan dibagian hilir yang berada di luar KEL juga tidaklah sedikit, dari luas 23.000 hektar Hutan Lindung dan Hutan Produksi di hilir DAS Tamiang, seluruhnya telah terdegradasi dan 50% -nya telah berubah fungsi menjadi kawasan non hutan baik perkebunan kelapa sawit maupun areal tambak.

Kondisi ini menyebabkan Tamiang sangat rentan terhadap bencana ekologis, seperti banjir besar yang melanda kabupaten tersebut pada Tahun 2006 lalu. Untuk mencegah bencana serupa beberapa tahun kedepan perlu dilakukan langkah-langkah restorasi dan rehabilitasi kawasan hutan yang telah rusak dan berubah fungsi untuk menjamin dan mendukung kehidupan masyarakat Tamiang yang berjumlah lebih dari 280.000 jiwa.

Berdasarkan hasil monitoring lapangan, ± 15.000 hektar lahan kawasan hutan di dalam KEL Aceh Tamiang yang telah dirambah / diduduki secara illegal oleh pemodal / perusahaan perkebunan kelapa sawit. Umumnya pelaku berasal dari luar wilayah Aceh Tamiang. Beberapa perusahaan pemilik HGU di Aceh Tamiang juga terlibat melakukan pembukaan lahan perkebunan di luar izin yang diberikan dan telah masuk ke dalam kawasan hutan, ± 2500 hektar lahan yang telah dirampah / diduduki oleh pemodal perkebunan telah dan dalam proses dikembalikan ke Pemerintah. Penyerahan dilakukan secara sukarela oleh pemilik perkebunan kepada BPKEL untuk dihutankan kembali (restorasi).

Seluas 425 hektar lahan yang sebelumnya dikuasai oleh PT. Alur Putih Abadi sudah direstorasi / rehabilitasi untuk dikembalikan fungsinya sebagai kawasan hutan. Perusahaan tersebut telah melakukan penanaman kelapa sawit seluas 20 hektar telah produksi; 10 hektar kelapa sawit baru tanam; 40 hektar lahan siap tanam dan sisanya hutan sekunder. Seluruh kelapa sawit seluas telah ditebang dan bekas lokasi ini dijadikan sebagai Stasiun Pemantauan Satwa Liar dan Rehabilitasi Hutan ujar fauzan azima. Fauzan Azima menambahkan saat ini sedang dilakukan penebangan kelapa sawit yang berada tepat dibatas Hutan Lindung dalam KEL Aceh Tamiang sejauh ± 4 km di Desa Rongoh Kec. Tamiang Hulu Kab. Aceh Tamiang. Lebar lahan yang ditebang berkisar antara 20 – 40 meter dari tanggal 12 September sampai sekarang.

Sumber : Surat Kabar Umum haba Rakyat Edisi 82, minggu ke-4 Oktober 2009
Diberdayakan oleh Blogger.