Header Ads

RIBUAN HEKTAR MANGROVE DI TAMIANG RUSAK PARAH

loading...
Kabupaten Aceh Tamiang yang merupakan kabupaten yang mempunyai potensi hutan bakau (mangrove) yang sangat menjanjikan di era tahun 80-an. Namun lain hal nya dengan kondisi mangrove yang ada saat ini. Ribuan hektar mangrove yang ada di desa Lubuk Damar Kecamatan Seruway kini telah beralih fungsi menjadi tambak dan perkebunan kelapa sawit.

Penghancuran hutan mangrove kentara sekali terlihat dengan adanya pengusaha perkebunan kelapa sawit yang menggunakan alat berat untuk menghancurkan ekosistem mangrove dan membuat tanggul-tanggul supaya air laut tidak lagi masuk ke areal pada saat pasang terjadi. Penggunaan alat berat berupa beco telah semakin mempercepat kehancuran ekosistem mangrove di desa Lubuk Damar.

Seorang masyarakat Desa Lubuk Damar yang dihubungi Media Keadilan via telepon celluler, mengatakan upaya perusakan dan konversi hutan mangrove bahkan sebagiannya termasuk dalam kawasan hutan lindung telah berlangsung lama sejak awal tahun 1990-an. Masyarakat yang dulu umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan dan pencari ikan, udang dan kepiting sangat mudah menemukannya di sungai-sungai dan kawasan hutan mangrove di saat air laut pasang, tapi kini semua itu telah sirna dan sulit dijumpai.

Lebih lanjut katanya, di tahun-tahun 1980-an masyarakat sangat mudah berusaha mencari ikan, udang dan kepiting, bahkan anak-anak sekalipun setiap pulang sekolah juga melakukan ini dan akan sangat membantu keluarganya. Namun sekarang hanya sebagian kecil yang memaksakan diri sebagai nelayan, itupun harus turun ke laut, kalau tidak maka tidak akan mendapatkan hasil apa-apa.

Menurutnya, sampai hari ini jum’at (19/6) masih ada 2 (dua) unit beco yang masih bekerja membukan areal perkebunan kelapa sawit dari lahan hutan mangrove, namun dia tidak tahu siapa pemilik dan yang menggunakan jasa beco tersebut. Di samping itu juga katanya, kerusakan hutan mangrove disebabkan oleh aktifitas masyarakat yang menebang kayu mangrove untuk dijadikan arang yang saat ini di kecamatan Seruway terdapat ratusan dapur arang secara illegal.

Bahkan lebih parah lagi, masyarakat yang melakukan penebangan kayu mangrove banyak juga yang berasal dari Sumatera Utara yaitu dari Serang Desa Jaya. Sehingga diperkirakan pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang tidak mendapatkan apa-apa untuk PAD dari sector pemanfaatan mangrove dan arang ini. Padahal di Kabupaten Aceh Tamiang saat ini telah memiliki POLHUT atau PAMHUT hampir ratusan orang, tetapi sepertinya belum efektif untuk menjaga dan mengawasi usaha dan kegiatan-kegiatan perusakan hutan mangrove di Lubuk Damar. Kadishutbun Syahri, SP ketika dihubungi hanphonenya sedang tidak aktif sehingga tidak dapat dikonfirmasi.

Sungguh ironis memang, masyarakat yang sejak dulu tinggal di pesisir dengan mata pencaharian utama nelayan harus beralih mata pencaharian bekerja sebagai buruh di perkebunan kelapa sawit yang juga jauh dari berkecukupan.

Sebagai suatu ekosistem yang sangat produktif, hutan mangrove dapat memberikan berbagai fungsi dan manfaat bagi manusia, mangrove tidak saja bermanfaat karena menghasilkan kayu sebagai bahan bangunan dan kayu bakar maupun bahan pembuatan arang, namun lebih dari itu segi penting hutan mangrove adalah peranan dan fungsinya sebagai penyangga ekosistem laut maupun daratan.

Hutan mangrove memiliki fungsi penting menjaga daratan dari keganasan ombak. Menurut sebuah literature hutan mangrove selebar 200 meter dengan kerapatan yang memadai dapat meredam kekuatan gelombang pasang termasuk gelombang tsunami setinggi 30 meter hingga 50%.

Sementara itu, Ketua DPD Ikatan Penyuluh Kehutanan Indonesia (IPKINDO) Kabupaten Aceh Tamiang Bustami, S.Hut ketika diminta tangapannya atas kerusakan mangrove di Lubuk Damar mengatakan, kerusakan mangrove di Lubuk Damar memang telah menyebabkan kekhawatiran bagi kita semua pecinta lingkungan, kerusakan telah terjadi dan menyebabkan dampak ke berbagai sector, baik fisik-kimia, biologi maupun social budaya masyarakatnya. Dan ini sudah sepantasnya menjadi perhatian semua pihak.

Syauwaluddin, Ketua Divisi Kampanye Lembaga Advokasi Hutan Lestari (LEMBAHTARI) Aceh Tamiang ketika dihubungi Media Keadilan Jum’at (19/6) juga membenarkan tentang kondisi hutan mangrove Lubuk Damar yang sudah porak-poranda. Sedikitnya 70 persen hutan mangrove Aceh Tamiang porak-poranda, selain bekas pembukaan tambak, pemanfaatan arang bakau dan alih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit terus berlanjut hingga kini. Tak ada lagi komunitas kepiting, seteng, dan ikan untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat disana, demikian Syawal mengatakannya (IST).

Dikutip Dari SKI Media Keadilan
Diberdayakan oleh Blogger.