Header Ads

Mengapa Air Perlu Dikelola?

loading...
Air merupakan sumber kehidupan, tanpa adanya air tidak ada kehidupan. Betapa vitalnya air ini dirasakan dan disadari oleh semua makhluk hidup. Sesungguhnya alam telah menyediakan air untuk kehidupan. Namun karena ulah manusia yang memperlakukan alam kurang bijaksana, sehingga menimbulkan banyak masalah dengan kurang tersedianya air yang layak dan bersih untuk dikonsumsi manusia.

Air di muka bumi persediannya sangat terbatas, yaitu sekitar 1.360.600.000 km3. Sekali jaring atau siklus air terganggu atau rusak, sistemnya tidak berfungsi sebagaimana lazimnya oleh akibat limbah industri, pengrusakan hutan atau hal-hal lainnya, maka dengan sendirinya membawa efek terganggu atau rusaknya sistem itu.

Suatu limbah industri (misalnya) yang bersenyawa dengan limbah pestisida/insektisida dan buangan domestic lainnya, lalu menyatu dengan air sungai, akan merusak air sungai dan mungkin juga badan sungai. Memang ada pihak berkata, bahwa alam akan mengaturnya dan memperbaikinya kembali. Tetapi perlu kita ingat, bahwa semua ada batasnya.

Kita harus memperhatikan batas ambang, Frans Magnis Suseno (1986) mengatakan ; hal ambang bukan ibarat ember yang meskipun hanya kemasukan air bertetes-tetes saja, namun pernah akan penuh, yang tumpah hanyalah air yang kelebihan. Melainkan ibarat gedung yang secara sembrono ditambahi tingkat baru, barangkali struktur beton masih tahan ditambahi dua atau tiga tingkat di luar rencana konstruksi, tetapi pada tingkat keempat atau kelima seluruh gedung akan ambruk, bukan hanya tingkat-tingkat tambahan saja.

Lalu bagaimana kondisi air saat ini, baik air tanah maupun air permukaan? Sebuah data Status Mutu Air Sungai di 30 Provinsi di Indonesia yang dikeluarkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup pada tahun 2008, menunjukkan mayoritas kualitas air sungai di Indonesia sudah mengalami pencemaran dari tingkat tercemar ringan sampai tercemar berat. Ini artinya tidak ada lagi air sungai yang belum tercemar atau yang masih berada dalam kondisi alamiahnya.

Sementara hasil pemantauan air Sungai Tamiang bulan Mei 2009 yang dilakukan oleh BLH Aceh Tamiang pada 8 lokasi titik pantau juga menunjukkan tingkat kekeruhan yang telah berada pada ambang yang mengkhawatirkan yaitu berkisar antara 124 – 176 NTU (Nephelometric Turbidity Units). Padahal menurut literature yang ada, air baik digunakan untuk air minum dengan tingkat kekeruhan dibawah 5 NTU.

Kasus lainnya di Kabupaten Aceh Tamiang menunjukkan pengelolaan air bawah tanah juga belum maksimal. Pansus Komisi D DPRK Aceh Tamiang saat turun ke lapangan baru-baru ini menemukan hampir semua perusahaan yang beroperasi di Tamiang belum mengantongi izin pemanfaatan air tanah ataupun izin pemanfaatan air permukaan. Ini artinya pengelolaan dan pencemaran air masih harus dilakukan perubahan ke arah yang lebih baik lagi, mengenai teknis pengelolaan maupun dari segi regulasi ataupun perangkat hukumnya.

Suatu trend penggunaan dan pemanfaatan air saat ini menunjukkan kondisi yang mencemaskan, adanya konsumsi air yang semakin meningkat, terjadinya pergeseran pola pemanfaatan air dari air yang dimasak ke Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang disedot oleh perusahaan-perusahaan dari sumber mata air secara tidak terkendali, serta munculnya usaha kolam renang dimana-mana dan menjamurnya depot air isi ulang yang menguras air bawah tanah melalui sumur-sumur bor tanpa adanya perhitungan dan kajian terhadap kerusakan lingkungan.

Penggunaan air tanah yang berlebihan tanpa adanya pemeliharaan juga merupakan factor penyebab. Pengambilan air tanah yang tidak terkendali, berlebihan dan tidak terkontrol akan menyebabkan kekosongan ruang di perut bumi, dan akan menyebabkan tanah mengalami penurunan hingga di bawah permukaan laut seperti yang terjadi di DKI Jakarta saat ini.

Penyebab lainnya yang menyebabkan gangguan hidrologi adalah tingginya peningkatan jumlah penduduk serta kegiatan ekonomi dan industri yang mencemari lingkungan dengan membuang air limbah yang melebihi baku mutu yang ditetapkan. Pada saat yang sama terjadi pengurangan luas hutan dan daerah tangkapan air menjadi lokasi aktivitas penduduk, pencemaran limbah rumah tangga terhadap sungai dan sumber air lainnya serta penggunaan pupuk kimia yang dapat merusak sumber air.

Berpijak dari itulah perlunya kebijakan pengelolaan dan pengendalian air. Pengelolaan kualitas air merupakan upaya pemeliharaan air sehingga tercapai kualitas air yang diinginkan sesuai peruntukan-peruntukannya untuk menjamin agar kualitas air tetap dalam kondisi alamiahnya.

Memulihkan siklus hidrologi dapat dilakukan dengan memperbaiki ekosistem DAS yang antara lain dapat dilakukan melalui perlindungan hutan, konservasi tanah dan air, pengendalian konversi hutan termasuk pemberantasan illegal logging, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, rehabilitasi lahan kritis, serta penegakan hukum melalui kerjasama antar pemangku kepentingan di semua tingkatan.

Sedangkan pengendalian pencemaran air dipandang perlu sebagai upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran air serta pemulihan kualitas air untuk menjamin kualitas air agar sesuai dengan baku mutu air. Dan inilah yang diamanatkan oleh PP No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Berbuatlah sekarang untuk generasi mendatang.

Penulis : SAYED MAHDI, SP
Ketua LITBANG DPD Ikatan Penyuluh Kehutanan Indonesia (IPKINDO)
Kab. Aceh Tamiang
Diberdayakan oleh Blogger.